Deretan Mitos Larangan Pernikahan Menurut Adat Jawa, Kamu Percaya?

BNews—MAGELANG— Menikah merupakan salah satu impian sebagian besar orang. Namun, bagi keturunan Jawa ada beberapa mitos larangan yang perlu diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan.

Paling tidak, hal ini berlaku bagi orang-orang yang masih mempercayai deretan mitos tersebut. Lalu, apa saja mitos-mitos larangan pernikahan tersebut?

Berikut lima mitos tentang larangan pernikahan. Dilansir dari beautynesia.id, Selasa (6/7/2021).

Dilarang Menikah di Bulan Syuro (Muharram)

Bagi masyarakat Jawa, menikah di bulan Syuro atau Muharram sebaiknya dihindari. Bulan ini dipercaya sebagai bulan keramat sehingga dianggap kurang baik untuk menggelar hajatan apalagi pernikahan di bulan ini.

Bila larang ini dilanggar, beberapa masyarakat percaya akan datang malapetaka atau musibah bagi pasangan yang menggelar pernikahan serta kedua keluarga besar mereka.

Pernikahan Jilu/Lusan (Siji karo Telu/Katelu dan Sepisan)

Sebagian besar masyarakat Jawa menilai bahwa pernikahan Jilu atau Siji karo Telu yakni pernikahan anak nomor satu dan anak nomor tiga sebaiknya dihindari.

Beberapa masyarakat percaya jika pernikahan ini bisa mendatangkan banyak cobaan dan masalah di dalamnya jika tetap dilangsungkan. Perbedaan karakter yang terlalu jauh dari anak nomor 1 dan 3 juga menjadi pertimbangan penuh kenapa pernikahan ini sebaiknya dihindari.

Posisi Rumah Calon Pengantin Tidak Boleh Berhadapan

Pada beberapa daerah, posisi rumah calon mempelai yang saling berhadapan dilarang untuk menikah. Jika kedua calon mempelai tetap menikah, dikhawatirkan akan datang berbagai masalah di kehidupan rumah tangga mereka.

 Jika memang keduanya tetap ingin menikah, solusinya adalah salah satu rumah calon mempelai direnovasi hingga posisinya tidak lagi berhadapan. Atau, salah satu calon mempelai bergabung ke dalam keluarga kerabat mereka yang posisi rumahnya tidak berhadapan dengan calon mempelai lainnya.

Pernikahan Siji Jejer Telu (Pernikahan Satu Berjejer Tiga)

Dimaksud pernikahan siji jejer telu adalah ketika kedua calon mempelai sama-sama anak nomor 1 dan salah satu orang tua mereka juga anak nomor 1 di keluarganya.

Jika pernikahan ini tetap dilangsungkan, sebagian masyarakat percaya bahwa pernikahan ini akan mendatangkan sial dan malapetaka.

Weton Jodoh

Ketika hendak melangsungkan pernikahan, sebagian masyarakat masih mempercayai hitungan weton. Ada beberapa weton yang nantinya tidak bisa cocok atau berjodoh.

Karena ketidakcocokan ini, beberapa masyarakat percaya jika pernikahan tersebut sebaiknya tidak dilangsungkan atau dibatalkan saja. (mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: