Even Kebon Wengi Watu Gede Bikin Susah Move On

EVENT : Penerbangan lampion saat konser Tetep Neng Ati dalam rangkaian event pasar wengi watu gede bandongan (22/12)--(Foto--Bnews)

EVENT : Penerbangan lampion saat konser Tetep Neng Ati dalam rangkaian event pasar wengi watu gede bandongan (22/12)--(Foto--Bnews)

BNews—BANDONGAN—Inovasi baru di Pasar Diital Kebon Watu Gede yang biasanya buka tiap minggu pahing dan legi ini dicoba buka malam hari. Dengan Tajuk Pasar Wengi Watu Gede- Energi Sumbing yang di selenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Magelang berkerja sama dengan Borobudur Plus Event Organizer dan Magnet Chanell menarik ribuan pengunjung datang.

 

Acara diselenggarakan mulai 22 Desember malam hingga 23 Desember 2018 siang hari di Kebon Watu Gede Dusun Jetak Desa Sidorejo Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Dimana pada sabtu malam di gelar beberapa rangkaian acara seperti Live Music Romantic, Sendra Tari Manohara, Obar-abir , Pembukaan Acara, Konser Tetep Neng Ati dan penerbangan lampion dan Minggu pagi sampai siang lomba kesenian rakyat dan pasar kuliner watu gede.

 

Saat rangkaian acara berlangsung pasar kuliner tradisional di Kebon Watu Gede juga dibuka dengan konsep dan nuansa jadul dibingkin dari dekorasi sentir dan obor. Hadir dalam acara pembukaan Kepala Disparpora Kabupaten Magelang Iwan Sutiarso beserta jajaran dan Forkompincam Bandongan.

 

Atraksi seni tari obor Obar Abir, menjadi pembuka wisata Pasar Wengi Kebon Watu Gede, Dari kilatan api, disusul pagelaran tari kolosal Manohara dari Sanggar Langen Budoyo Dusun Pucung Pogalan Kecamatan Pakis lereng Gunung Merbabu menambah suasana pasar yang digelar Minggu Pahing dan Minggu Legi penanggalan Jawa itu semakin meriah.

 

Sendratari Manohara sendiri berkisah tentang cinta tanah di sengketa yang berujung kedamaian, semangat gotong royong dan kemakmuran seperti terpahat di salah satu relief Candi Borobudur. Sementara itu, hingga tengah malam, penampilan sejumlah kelompok band lokal dan konser tetep neng ati oleh bintang tamu band Om Wawes dari Jogja seakan mengundang ribuan wisatawan untuk terus berdatangan di pasar wisata unik di lereng Gunung Sumbing ini. Para wisatawan dari berbagai kota sengaja datang demi menikmati sajian kuliner jajanan serba kuno yang nyaris punah.

 

 

Iwan Sutiarso menyampaikan sambutan Bupati Magelang, yakni bahwa gunung sumbing merupakan salah satu dari tiga gunung tertinggi di Jawa Tengah yang menyimpan banyak potensi wisatanya. “Oleh sebab itu, kami sarankan pemerintah desa untuk ikut memaksimalkan potensi wisata salah satunya seperti Pasar Kuliner Jadoel Kebon Watu Gede menggunakan dana desa,” katanya.

 

LOMBA : Plt Kabid Promosi dan Kelmbagaan Disparpora Kabupaten Magelang saat memberikan piala juara pertam lomba kesenia rakyat (23/12)--(Foto--Bnews)
LOMBA : Plt Kabid Promosi dan Kelmbagaan Disparpora Kabupaten Magelang saat memberikan piala juara pertam lomba kesenia rakyat (23/12)–(Foto–Bnews)

 

Kepada awak media Iwan Sutiarso mengatakan bahwa dengan tema acara Energi Sumbing mampu menjadi magnet wisata di sekitaran Sumbing ini. “Dengan melihat wisatawan yang hadir baik local maupun dari luar daerah ini pasti mampu menimbulkan effect multi kepada masyarakat meraub hasilnya dari wisata unik ini,” imbuhnya.

 

Keberadaan wisata inovatif ini, menurut Iwan berkat kreativitas warga memanfaatkan media sosial. Meski lokasinya jauh dari pemukiman, wisata ini terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas.

 

“Konsepnya digital namun tetap mempertahankan kearifan lokal kuno. Ini kolaborasi antara masyarakat desa dengan generasi milenial yang peduli dengan pariwisata Kabupaten Magelang salah satunya GenPI Magelang,” ungkapnya.

 

Acara puncak pada malam itu yakni dengan Konser Tetep Neng Ati oleh bintang tamu band dari Jogja yakni Om Wawes yang kental dengan music Dangdut Remukan Ati yang sedang hits di kalangan anak muda sat ini. “Tadi juga ada penerbangan ratusan lampion, dimana penerbangan lampion bersama ini merupakan salah satu adat tradisi masyarakat sini tiap tahunnya yang kita bingkin dalam rangkaian acara ini,” paparnya.

 

Sedangkan untuk lomba kesenian rakyat diikuti oleh 11 kelompok kesenian terpilih dari ratusan pendaftar.”Dari ratusan kelompok yang mendaftar kita sharing menjadi 11 kelompok masuk dalam perlombaan ini dengan ciri khas masing-masing,” tegas Iwan.

 

Untuk pemenang lomba kesenia rakyat ini yakni juara satu oleh Jatilan Wahyu Satrio Budoyo dari Penggarengan Kecamatan Kaliangkrik, Juara kedua kelompok Soreng Kridho Nudaya dari Noyogaten Bandungrejo Kecamatan Ngablak, Juara ketiga diperoleh Topeng Ireng Arya Rimba dari Pager Bateh Kecamatan Candimulyo.

 

Sedangkan untuk penyaji terbaik satu atau juara harapan satu diperoleh oleh kelompok kesenian Jatilan Madyo Budaya dari Pancar Kecamatan Salaman, Juara harapan dua diperoleh oleh kesenian Rampak Buto Sanggar Tameng Budaya Kecamatan Bandongan dan juara harapan ketiga kelompok kesenian Mahesa Suro dari Jurang Bandongan.

 

Event Pasar Wengi Watu Gede yang pertama kali di konsep di Destinasi Digital ini bikin banyak yang susah move on dari nuansa seru dan romantic ini. Salah satunya Nadia, 25 salah satu rombongan wisatawan dari Kabupaten Karanganyar yang datang satu bus langsung ke event ini.

 

“Kami rombongan satu desa dari Kabupaten Karanganyar memang penasaran dengan event ini, dan ternyata benar sangat seru suasana pasarnya ditambang event menarik ini,” katanya.


 

Senada disampaikan oleh Berto, 30 wisatawan asal Semarang yang menginap di salah satu hotel di Magelang  ini sengaja datang ingin menikmati inovasi pasar tradisional malam ini. “Saya bersama keluarga besar bela belain nginep di Magelang ingin menikmati event ini, dan pasar tradisional paginya yang cukup rame dan seru juga,” pungkasnya. (bsn)

error: Content is protected !!