Ini Sikap Warga Mertoyudan Terkait Rencana Pembangunan Bendungan

0
259
TOLAK : Inilah teks deklarasi warga Wayuhrejo terkait perencanaan pembangunan bendungan di kawasannya (13/9)--(Foto--Istimewa)
TOLAK : Inilah teks deklarasi warga Wayuhrejo terkait perencanaan pembangunan bendungan di kawasannya (13/9)--(Foto--Istimewa)

BNews—MERTOYUDAN— Terkait perencanaan pembangunan bendungan di sebagian wilayah Desa Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang, warga Dusun Wayuhrejo memberikan pernyataan sikapnya. Hal ini dikarenakan dusun Wayuhrejo menjadi salah satu wilayah terdampak bila pembangunan ini terjadi.

 

 

Warga Wayuhrejo melakukan deklarasi bersama terkait perencanaan pembangunan bendungan tersebut. Mereka setuju dengan pembangunan ini namun dengan syarat tidak ada makam yang dipindahkan, tidak ada tempat ibadah Masjid/Mushola yang dipindahkan dan tidak ada pemukiman  penduduk yang digusur.

 

“Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka warga menolak pembangunan bendungan.,” ungkap Rohmat salah satu warga Wayuhrejo.

 

Diketahui bahwa di Dusun Wayuhrejo atau Kewayuhan terdapat makam Mbah Wayuh sebagai leluhur cikal bakal dusun. “Oleh sebab itu warga mempertahankan keaslian makam, yang akan tenggelam bila bangunan bendungan diwujudkan,” imbuhnya.

 

Dari informasi yang dihimpun Borobudur News,untuk tahapan pembangunan bendungan Pasuruan Mertoyudan memasuki tahap sosialisasi. Dimana total daerah terdampak ada 43 dusun di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Mertoyudan, Borobudur dan Tempuran dan saat ini tahapan identifikasi, tahap berikutnya dokumen AMDAL dibuat berdasarkan identifikasi.

 

Perencanaan pembangunan bendungan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2013 lalu. Namun untuk proses pengerjaannya masih lama karena harus sesuai tahapan dan prosedurnya seperti AMDAL, dan maksimal 3 tahun kemudian mulai pengerjaan.

 

Sementara Camat Borobudur, Nanda Cahyadi,  mengungkapkan bahwa dirinya mendukung pembangunan bendungan tersebut yang merupakan program pemerintahan pusat. “Hal itu dikarenakan nantinya bendungan ini menjadi sumber irigasi persawahan di wilayah Kecamatan Borobudur,” katanya (13/9).

 

Diketahun bahwa saat ini lahan persawahan di Borobudur hanya mengandalkan sumber dari Kali Tangsi Salaman, dimana air tersebut tidak mencukupi mengairi sawah semua desa di wilayah Borobudur. “Baru sampai Kembanglimus air dari Kali Tangsi sudah habis terbagi ke beberapa saluran irigasi,  sehingga daerah Kujon ke timur irigasinya kering,  dan lebih banyak mengandalkan hujan sebagai sumber air untuk bertanam padi,” pungkasnya. (bsn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here