Menilik Bangunan Bekas Stasiun Blondo yang Kini Jadi Panti Pijat

BNews–MERTOYUDAN– Banyak bangunan bekas stasiun kereta api di Kabupaten Magelang. Generasi milineal jaman sekarang jarang mengetahui hal tersebut.

Bangunan penuh sejarah tersebut masih berdiri kokoh meskipun kurang terawat. Tentunya hal tersebut harus dipertahankan sebagai bentuk merawat sejarah, khususnya sejarah perkeretaapian di Magelang.

Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana, mengatakan sebagai komunitas pemerhati dan pelestari sejarah dan bangunan cagar budaya di Magelang. Terdapat banyak stasiun di jalur perlintasan kereta api Magelang – Jogjakarta, yang saat ini kondisinya tidak sama.

“Yang paling istimewa kondisi bangunannya adalah Stasiun Mertoyudan. Bahkan sampai sekarang masih lengkap dengan bangunan rumah dinas Kepala Stasiun Mertoyudan, di Jalan  Mayjen Bambang Sugeng,” katanya (15/1/2020)

Perlu diketahui, bahwa Stasiun Mertoyudan ini dibangun pada tahun 1898 oleh perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada zaman kejayaannya, stasiun ini ramai oleh masyarakat sekitar, guna bepergian ke Jogyakarta maupun Semarang

“Namun sekitar tahun 70an, stasiun-stasiun di jalur tersebut tutup, dikarenakan kalah dengan moda transportrasi lainnya, seperti bus dan minibus yang berjalan lebih cepat diatas jalan beraspal,” imbuhnya.

Adapun stasiun di jalur tersebut, selain stasiun Mertoyudan adalah Stasiun Japunan Danurejo, Stasiun Blondo, Stasiun Blabak Mungkid, Stasiun Palbapang. Ada juga Stasiun Muntilan, Stasiun Jumoyo dan stasiun kecil lainnya hingga masuk ke wilayah Jogjakarta.

“Stasiun lainnya dijalur Magelang – Jogjakarta selain Stasiun Mertoyudan kondisinya memprihatinkan, seperti Stasiun Blabak yang sudah dibongkar tinggal tembok belakangnya saja. Bahkan stasiun lainnya sudah tidak ada wujud bangunannya,” papar Bagus.

Adapun untuk Stasiun Blondo, meskipun masih berdiri, namun separuh lebih bangunan sudah dirubah. “Meskipun dibeberapa bagian bangunan masih dijumpai ornamen khas bangunan belanda, seperti daun jendela dan kusen pintu, ” ungkapnya.

Sementara bekas Stasiun Blondo sudah beralih fungsi sebagai tempat pijat. Termasuk sekitar rel kereta api sudah dikepung oleh bangunan pemukiman penduduk.

Bagus Priyana mengemukakan, bentuk stasiun harus memperhatahankan wujud bangunan sebagai stasiun. Jangan sampai berubah bentuk kehilangan ciri khas sebagai stasiun.

“Alasannya adalah, sebagai identitas sejarah perkreta apian. Penggunaan aset lahan menjadi kewenangan PT KAI. Namun jejak peninggalan kereta api di Magelang, harus dipertahankan. Meskipun bangunan dialih fungsikan, tapi seyogyanya wujud bangunan asli tetap dipertahankan,” pungkasnya. (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: