Meski Hujan Deras, 20 Ribu Jamaah Hadiri Haul Mbah Mad Watucongol Muntilan
- calendar_month Sel, 6 Feb 2024

haul ke 14 atau peringatan meninggalnya KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang akrab disapa Mbah Mad
BNews-MAGELANG- Lebih dari 20.000 jamaah memadati Pondok Pesantren Darussalam Dalem Tengah Watucongol. Mereka hadir untuk mengikuti haul ke-14 atau peringatan meninggalnya KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang akrab disapa Mbah Mad, pada hari Minggu (4/2/2023).
Para jamaah bahkan memenuhi jalan raya, dan mereka dengan rela mengikuti tahlilan dan pengajian di bawah hujan deras. Mereka terlihat membawa payung dan mantel hujan, serta duduk di atas tikar.
Sebelumnya mereka hadir dalam acara tersebut, para jamaah ini melakukn ziara di makam Mbah Mad. Dimana hal tersebut sudah menjadi kebiasaan para jamaah.
Salah seorang jamaah dari Kabupaten Temanggung, Kukuh Sulaimanmengakui bahwa hujan bukanlah halangan bagi dirinya. Yakni untuk mengikuti haul Mbah Mad.
Ia rela basah kuyup selama berjam-jam. “Tidak apa-apa, Alhamdulillah tetap enak, ada ketenangan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia mengaku tidak pernah absen dalam setiap acara untuk mengirimkan doa kepada almarhum Mbah Mad.
Setiap selapan atau setiap 35 hari sekali, ia dan keluarganya selalu hadir dalam acara mujahadah yang diadakan oleh keluarga besar RM KH Nurul Hidayat Ahmad Abdul Haq atau yang akrab disapa Gus Nurul di pondok pesantren ini.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
“Saya pasti datang ke sini, setiap 35 hari sekali. Saya ingin mendapatkan berkah dari Mbah Mad dan Mbah Dalhar,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pemuda Penderek Watucongol (Gada Dewa), Bambang, menyebutkan bahwa haul kali ini mengangkat tema besar tentang religiusitas dan semangat menjaga moralitas dan etika.
Jika karakteristik tersebut melekat pada setiap individu, maka bangsa ini akan kuat menghadapi ancaman apa pun.
“Etika dan moral harus dimiliki oleh setiap anggota masyarakat dan juga para pejabat kita,” tambah Bambang.
Tema ini diharapkan dapat mengembalikan generasi penerus bangsa kepada jati diri asli sebagai warga Indonesia.
Budaya unggah-ungguh sangat dijunjung tinggi, terutama di masyarakat Jawa.
“Tema ini merupakan tanggapan terhadap fenomena zaman sekarang, bahwa kita bisa melihat bagaimana tingkah laku pemimpin-pemimpin bangsa yang terkesan seperti anak kecil. Etika hilang, moral hilang,” katanya dengan tajam.
Generasi muda saat ini mengalami penurunan moral dan etika.
Hal ini terbukti dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh anak muda yang mengabaikan hal-hal penting tersebut.
“Dulu (almarhum) Mbah Mad selalu memberikan nasehat bahwa anak harus berbakti kepada orang tua, dan masyarakat tidak boleh memusuhi pemimpinnya. Jika suatu negara mengalami pemberontakan oleh rakyatnya, maka negara tersebut akan kehilangan jiwanya, kehilangan martabat, sehingga mudah dijajah,” ujarnya.
Mbah Mad juga menyampaikan pesan bahwa rakyat boleh memberikan kritik atau mengkritisi pemerintahan, namun harus disampaikan dengan santun.
“Itu adalah pesan dari Mbah Mad mengenai pentingnya etika dan moral untuk menjaga kesatuan dan kekokohan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tegasnya.
Diketahui bersama, haul Mbah Mad tidak hanya menjadi acara keagamaan semata.
Namun juga memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat sekitar.
Sejauh satu kilometer dari lokasi acara, banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka lapak untuk berjualan makanan, minuman, pakaian, mainan, dan barang lainnya.
Tidak hanya itu, ada juga warga yang menjual alas dari kemasan plastik bekas.
Alas tersebut dijual seharga Rp 5.000 per lembar kepada para jamaah.
Acara ini juga dihadiri oleh pengkhotbah KH Achmad Chalwani dari Purworejo.
Selain itu, hadir pula beberapa kiai atau ulama dari Jawa Tengah, serta tokoh-tokoh lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Magelang.
Tidak hanya itu, jamaah dari Gada Dewa, jamaah Anoman, jamaah 313, dan masyarakat umum dari berbagai daerah juga hadir.
Bahkan, ada pula jamaah yang datang dari luar Pulau Jawa, seperti Lampung, Palembang, Banjarmasin, dan lain sebagainya.
Hal menariknya adalah, para jamaah yang datang dari luar daerah telah tiba sehari sebelum acara berlangsung. Mereka memutuskan untuk menginap di kendaraan, karena khawatir tidak mendapatkan tempat saat acara haul berlangsung.
Panitia acara haul ini juga telah membagikan 20.000 makanan bagi para jamaah. Seluruh makanan tersebut habis terjual. Namun, masih banyak jamaah yang tidak mendapatkannya karena jumlah jamaah yang begitu banyak. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar