Pembangunan Skywalk Penghubung Candi Pawon-Mendut-Borobudur Mendadak Ditunda, Ada apa?

BNews—MAGELANG— Pembangunan Skywalk dan jembatan yang menjadi jalur akses Candi Mendut-Candi Pawon-Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, terpaksa ditunda. Mundurnya pengerjaan dari rencana semula yang seharusnya dimulai pada tahun ini karena di lokasi pembangunan ditemukan sejumlah diduga Benda Cagar Budaya (BCB).

Individual consultant Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur, Bangun Setia Budiaji mengatakan, BCB ditemukan di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid. Berdasarkan adanya temuan tersebut, kelanjutan pembangunan harus menunggu hasil kajian Balai Konservasi Borobudur (BKB) terlebih dahulu.

”Dari hasil kajian itulah, kita baru bisa mengetahui apakah bisa menjalankan kegiatan pembangunan fisik sesuai rencana semula. Atau harus melakukan sejumlah perubahan teknis konstruksi demi melindungi area-area tertentu,”katanya, Selasa (7/9).

Ia menjelaskan, temuan situs apa pun di lokasi tersebut, dipastikan tidak akan mengganggu bangunan fisik Skywalk dan jembatan. Perubahan mungkin akan dilakukan apabila ditemukan situs cukup besar di banguan tengah area Skywalk.

”Yakni dengan memasang lapisan kaca di lantai Skywalk sehingga pengunjung bisa melihat situs tersebut dari atas,” jelasnya.

”Dan justru, temuan situs justru akan semakin menambah daya tarik tempat skywalk dan jembatan sebagai bagian dari destinasi wisata,” sambungnya.

Informasi yang dihimpun, Skywalk yang akan dibangun di atas Kali Progo ini merupakan jembatan khusus untuk pejalan kaki. Mulai dari Desa Bojong, Kecamatan Mungkid hingga ke Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Skywalk dan jembatan ini menjadi jalur yang menghubungkan Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur.

Jalur ini sengaja dibangun karena diduga di masa lampau, ada aktivitas tertentu warga yang dilakukan di tiga candi tersebut. Selain pembangunan Skywalk dan jembatan, dilakukan pula penataan kawasan Borobudur.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Diantaranya, pembangunan tiga gerbang penanda kawasan budaya di daerah Blondo di Kecamatan Mungkid; di Desa Kembanglimus di Kecamatan Borobudur; serta di pertigaan Palbapang di Kecamatan Mungkid,” sambungnya.

Gerbang di Blondo memakai simbol Kalpataru, gerbang di Desa Kembanglimus menampilkan simbol gajah, sedang gerbang di Palbapang menampilkan simbol singa. Pembangunan tiga gerbang saat ini sudah mencapai sekitar 50 persen dan pembangunan dijadwalkan selesai pada Desember 2021.

Terpisah, pamong ahli madya dari Balai Konservasi Borobudur (BKB), Yudi Suhartono, menyampaikan jika pihaknya sudah melakukan ekskavasi selama dua kali. Tepatnya di areal yang akan menjadi lokasi pembangunan Skywalk dan jembatan di Desa Bojong.

Dari kegiatan tersebut, ditemukan manik-manik berwarna merah, pecahan tembikar bermotif geometris. Ada juga lapisan perkerasan batuan yang biasanya berada di bawah fondasi bangunan.

”Temuan itu didapatkan dari kegiatan eksvakasi yang dilakukan pada bulan Mei dan Juli,” urainya.

Sekalipun belum bisa mengambil kesimpulan apa pun, Yudi menyebut, temuan tersebut penting untuk ditindaklanjuti. ”Mengacu pada temuan itu, kami memutuskan akan kembali melakukan ekskavasi secara menyeluruh di kawasan tersebut pada Oktober mendatang,” tegasnya.

Salah satu hal yang dinilai penting adalah pecahan tembikar yang memiliki motif geometris, serupa dengan temuan tembikar di sekitar Candi Borobudur. Dengan adanya kemiripan tersebut, diperkirakan tembikar merupakan karya masyarakat yang hidup pada sekitar 800 Masehi, masa yang sama saat Candi Borobudur dibangun. (ifa/han)

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: