Sidak, Tim Gabungan Temukan Tabung Gas 3 kg Numpuk di Pengusaha Catering

BNews—TEMANGGUNG— Puluhan tabung gas elpiji (LPG) melon tiga kilogram disita petugas gabungan di Temanggung (21/8). Pasalnya tabung gas tersebut dipergunakan di rumah makan dan juga pengusaha catering.

Petugas gabungan yang terdiri dari Pemkab Temanggung dan Pertamina ini menggelar inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah rumah makan dan pengusaha catering di Temanggung. Hal ini dilakukan setelah meruaknya isu kelangkaan LPG melon isi tiga kg.

Alhasil, dalam sidak tersebut ditemukan puluhan tabung LPG melon 3 kg dari sejumlah rumah makan dan pengusaha catering. “Seharusnya tabung gas LPG tiga kg ini hanya diperuntukan bagi warga miskin atau pengusaha mikro, kalau ini jelas sudah menyalahi aturan penggunaan tabung LPG,”ungkap Kasubag Produksi Daerah Bagian Perekonomian Setda Temanggung, Rahma Ningrum Widiasari.

Perlu diketahui lagi, bahwa tabung gas LPG melon 3 kg merupakan barang bersubsidi oleh pemerintah dan seharusnya penggunannya hanya untuk kalangan terbatas. “Meskipun demikian belum ada paying hukum yang kuat akan hal tersebut, dan kami masih terus menggodok regulasi melalui Perbup dan target tahun ini selesai,” imbuhnya.

Dalam sidak tersebut ditemukan salah satu pengusaha kue yang bertindak sebagai pengecer. Namun hal tersebut hanya untuk mengelabuhi petugas saja.

BACA JUGA : PERTAMINA SIDAK TABUNG GAS CURANG DI MAGELANG, INI HASILNYA

“Kalau pengecer memang diperbolehkan, namun kalau dipergunakan untuk usaha industry besar itu tidak bisa dibenarkan,” tegasnya.

Meskipun demikian, belum ada aturan yang jelas sehingga pengusaha non-mikro yang mempergunakan tabung gas LPG 3 kg tidak bisa ditindak lebih lanjut. “Kami hanya akan menyita tabung LPG 3 kg ini, dan nanti suruh ganti tabung LPG yang tidak bersubsidi,” tandasnya.

Sementara Sales Eksekutif LPG 8 Karsidenan Kedu, Dimas Aji Karisma Cakra, mengakui masih banyak masyarakat yang menyalahgunakan elpiji tiga kilogram. “Kali ini baru 50 tabung dan itu baru dari dua tempat saja, dan Secara umum dari hasil sidah masih banyak masyarakat yang tidak tertib terkait penggunaan barang bersubsidi ini mencapai angka 90 persen,” pungkasnya. (bh/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: