Pemuda di Dukun Budidayakan Pohon Tengsek Khas Merapi

BNews–DUKUN– Salah satu pohon ini diyakini bertuah oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pohon Tengsek atau setingi dikenal juga dengan nama pohon sulaiman ini banyak tumbuh di kawasan lereng gunung merapi.

Salah satu pemuda lereng merapi, Sulistyo yang beralamatkan di Dusun Babadan 1 Desa Paten Kecamatan Dukun berupaya membudidayakannya. “Saat ini pohon tengsek sudah mulai langka di kawasan Merapi. Hal tersebut dikarenakan erupsi tahun 2010 silam, dan jarang orang menanam sekarang karena masa tanamnya cukup lama,” katanya (27/1/2020).

“Pohon ini paling besar lingkarnya yang saya temui sejauh ini lingkaran pohon mencapai 100 cm dengan ketinggian tujuh sampai sepuluh meter. Itu pun memerlukan waktu dan umur yang sangat panjang karena ini kayu hidup sampai ratusan tahun lamanya,” imbuhnya.

Pohon yang bisa tumbuh besar ini terkenal di sebagian kalangan masyarakt di Indonesia bertuah. Sering disangkut-sangkutan dengan hal mistis ataupun spiritual. Padahal pohon memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai jenis penyakit.

“Karena semakin langka dan banyak manfaatnya, saya mencoba membudidayakannya di area persawahan saya,” imbuhnya.

Sulis menceritakan, awal mula dirinya memberdayakan pohon ini berkat rekomendasi salah satu pelestari lingkungan Gunung Merapi Jatmiko FMHH pada tahun 2017 silam. “Saya mendapat pesan bahwa pohon ini perlu untuk diberdayakan. Dan sejak itu saya mulai membudidayakan dengan 10 orang tenaga, dan kini sudah mencapai 18 ribu bibit pohon tengsek siap tanam,” paparnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS GRATIS DAN RINGAN (KLIK DISINI)

“Saat proses ini kami membayar 10 warga sekitar dengan sistem borongan, satu orang dalam perhari bisa menghasilkan 600 pollyback,” terangnya.

Dalam proses pembudidayaan tersebut Sulistyo menggunakan biji yang diperoleh langsung dari pohon yang ada di hutan lereng Merapi. “Untuk biji ukurannya kecil-kecil seperti biji selasib namun berbentuk bulat,” jelasnya.

Dijelaskannya, bahwa sebanyak 30 persen bibit pohon tengsek miliknya sudah dsumbangkan untuk dilestarikan ke berbagai gunung seperti Merbabu, Andong, Sumbing, gunung Sari dan Muria. “Untuk 70 persen sendiri rencana akan dijual, karena memang ini swadaya tanpa program pemerintah,” ungkapnya.

NEWS: Sulistyo saat memamerkan ribuan bibit pohon tengsek hasil budidayanya (Foto: Istimewa)
NEWS: Sulistyo saat memamerkan ribuan bibit pohon tengsek hasil budidayanya (Foto: Istimewa)

Selama ini dana perawatan bertambah banyak mencapai Rp15 juta, untuk membuat 18 ribu polibag. Kini, bibit pohon Tengsek sudah bisa di beli di tempatnya.

Ia menempatkan bibit itu di sebuah perkebunan yang tidak jauh dari rumahnya. Tingginya juga sudah mencapai 1,5 meter. Bibit ini juga di jual secara online.

“Kalau jualan via online itu biasanya harga mulai dari Rp 50 ribu keatas. Sedangkan jika langsung lebih murah sebab kalau langsung pembelian menggunakan sistem partai besar,” paparnya.

Sulis jga mengaku bahwa pohon tengsek ini di negara Arab, Australia dan India banyak di buru karena berkhasiat sebagai obat herbal. “Di Indonesia sendiri belum ada penelitian hingga ke situ sepengetahuan saya,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: