Pengajuan Dispensasi Kawin di Sleman Meningkat, Mayoritas Hamil Duluan

BNews—SLEMAN— Pengadilan Agama Sleman mencatat permintaan dispensasi kawin pada tahun 2020 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Sebagai informasi, dispensasi kawin adalah pemberian izin menikah oleh pengadilan agama kepada calon pengantin yang usianya belum memenuhi syarat.

Menurut data Pengadilan Agama Sleman, tercatat 128 permintaan dispensasi kawin pada tahun 2019, namun hanya 117 yang putus.  Sedangkan pada tahun 2020 permintaan dispensasi kawin meningkat tajam menjadi 279, sebanyak 272 putus.

Dari ratusan permohonan kawin yang diterima Pengadilan Agama Sleman, kebanyakan yang melatarbelakangi pasangan menikah di usia dini adalah hamil di luar nikah.

”Kalau kasus di Sleman paling banyak karena hamil duluan. Faktor lain mungkin sangat kecil. Kemudahan teknologi bisa jadi juga berpengaruh. Saat ini anak-anak sudah pakai handphone, janjian jadi lebih mudah. Media sosial mungkin juga bisa berpengaruh,” kata Hakim Pengadilan Agama Sleman, Wahyudi, Senin (4/1/2021). Dikutip dari Tribunjogja.

Dia menjelaskan,tak semua dispensasi kawin dikabulkan oleh hakim. Sebab hakim akan menilai hal yang melatarbelakangi pengajuan dispensasi kawin tersebut.

”Banyak pertimbangan hakim, misalnya dalam kondisi hamil, kemudian tidak diberi dispensasi kawin malah menjadi frustasi, bunuh diri, anaknya dibuang, kalau lahir akte tidak ada bapaknya, dan lainnya. Banyak permasalahan lain yang mengikuti. Sehingga ketika hakim memutuskan akan mempertimbangkan sisi positifnya, dan yang terbaik,” jelas dia.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Lebih lanjut, Wahyudi menyampaikan bahwa  salah satu faktor penyebab meningkatnya permintaan dispensasi kawin adalah perubahan peraturan batas minimal perkawinan. Bila sebelumnya, aturan batas minimal perkawinan adalah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun laki-laki, maka saat ini diatur 19 tahun untuk perempuan dan laki-laki.

”Kan ada aturan baru, sudah diterapkan. Dulu usia 17 atau 18 tahun tidak perlu pakai dispensasi, tetapi sekarang harus pakai. Praktis itu akan menambah permohonan dispensasi kawin. Kalau nanti ada aturan batas minimal 20 tahun misalnya, pasti akan meningkat lagi,”katanya.

Wahyudi pun berharap agar para orang tua bisa lebih memperhatikan anak-anaknya. Serta menumbuhkan keyakinan pada Tuhan, sehingga anak dapat mengetahui  yang baik dan benar.

Namun bukan hanya dari segi orangtua, menurutnya, lingkungan tempat tinggal juga harus berperan. ”Misalnya dengan memberikan jam malam, memberikan teguran. Semua pihak yang berwenang juga harus terlibat, supaya pernikahan dini tidak meningkat,” pungkasnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: