Pengelolaan Yang Baik, Jadikan SRG Grobogan Jadi Teladan Nasional

BNews–JATENG– Implementasi sistem resi gudang (SRG) Kabupaten Grobogan telah menjadi teladan nasional. Bahkan pada 2019, SRG Grobogan dicanangkan sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia; dan menjadi benchmarking bimbingan teknis penyuluh/pengelola SRG se-Indonesia.

Dengan pengelolaan yang baik, maka program ini telah dirasakan manfaatnya oleh para petani.

“Manfaatnya luar biasa bagi petani. Kalau biasanya kan petani jual gabah masih basah, kadar air ketinggian. Itu yang dikasih stempel beras jelek, akhirnya tidak terserap. Nah di gudang ini diterima dengan standar tentunya, dijemur lagi dan harganya bisa terangkat tinggi,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat meninjau lokasi gudang di Grobogan, Selasa (20/4/2021).

Selain itu, apabila harga di pasar belum menentu apalagi anjlok, sistem resi gudang dapat melindungi petani. Hasil pertanian yang disimpan di gudang akan mendapat resi, dan itu bisa dijaminkan ke Bank Jateng.

“Bisa dijaminkan ke Bank Jateng, dapat uang. Jadi sambil menunggu harga stabil, mereka tetap bisa punya modal tanam kembali. Ya seperti menggadaikan gabah ke resi gudang ini. Dengan pengelolaan baik, maka hasil pertanian bisa tinggi,” jelasnya.

Ganjar mengatakan dengan mekanisme itu maka pengelola akan membantu menjualkan gabah yang telah digiling dengan harga maksimal. Nantinya, hasil penjualan itu akan dibagi dengan kapasitas 60;40.

“Ini menarik dan saya berharap program ini diterapkan di daerah lain di Jawa Tengah,” pungkasnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Lebih lanjut, Nur Sholikhin (45), petani asal Tanjung Harjo Grobogan menceritakan, sebelum adanya sistem resi gudang, dirinya selalu menjual hasil panen ke pasaran. Meskipun harga sedang jatuh, Ia terpaksa menjual untuk modal bertanam selanjutnya.

“Sekarang tidak susah lagi. Meskipun saat panen harga anjlok, saya tidak langsung menjual. Gabah bisa saya simpan dulu di gudang yang menerapkan sistem resi gudang ini, nanti kalau harga sudah stabil, baru dijual,” kata Nur Sholikhin.

Apalagi, sambil menunggu harga stabil, gabah yang disimpan dengan mekanisme resi gudang itu bisa ia jaminkan ke Bank Jateng. Dengan jaminan itu, ia tak repot saat musim tanam tiba.

“Sudah empat kali saya jaminkan resi gudang saya. Dapatnya lumayan, maksimal 75 juta dan bisa digunakan tanam lagi. Nanti setelah harga stabil, baru gabah dijual. Saya pernah untung Rp10 juta dengan program ini,” ucapnya

Hal senada disampaikan Nur Rodi (60) petani lainnya. Ia menerangkan, sistem resi gudang sama seperti pegadaian, yakni petani menjaminkan gabahnya ke bank untuk mendapatkan modal. Jaminannya adalah resi gudang yang diterbitkan.

“Keuntungannya kita tunda jual kalau harga murah. Dengan menunda penjualan, kan kita tetap dapat modal tanam dengan resi gudang yang ada. Nanti setelah harga stabil, baru dijual dan kami tetap tidak merugi,” ucapnya.

Nur sendiri mengatakan, sudah ada 800 petani di Gapoktannya yang mengikuti program resi gudang ini. Saat ini saja, sudah ada 100 ton gabah kering yang mereka simpan di gudang sistem resi gudang Grobogan tersebut.

“Jadi bisa meminimalisir kerugian, karena kami tidak buru-buru menjual. Sistem ini memang menguntungkan,” pungkasnya. (*/ihr)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: