Darurat Sampah di Jateng Mulai Ditangani, Proyek Energi Terbarukan Resmi Dimulai
- calendar_month 13 menit yang lalu

Jateng Percepat Atasi Krisis Sampah, Semarang Raya Jadi Proyek Perdana Pengolahan Sampah Jadi Listrik
BNews-JATENG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat penanganan persoalan sampah melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis energi terbarukan.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Danantara dan pemerintah daerah untuk pembangunan PSEL di sejumlah wilayah prioritas nasional, termasuk Jawa Tengah.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mewakili Gubernur Ahmad Luthfi menghadiri langsung penandatanganan kerja sama di Ruang Rapat Utama Lantai 3 Gedung Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Pada tahap awal, kawasan aglomerasi Semarang Raya yang melibatkan Kota Semarang dan Kabupaten Kendal ditetapkan sebagai proyek strategis pertama di Jawa Tengah yang segera dibangun.
Menurut Taj Yasin atau yang akrab disapa Gus Yasin, proyek tersebut menjadi solusi konkret terhadap persoalan penumpukan sampah yang selama ini membebani sejumlah daerah, khususnya Kota Semarang.
“Alhamdulillah, hari ini sudah ada penandatanganan. Tadi arahan dari Pak Menko Pangan, pembangunannya akan segera dilakukan. Ini akan sangat membantu mengurangi persoalan sampah yang ada di Kota Semarang,” katanya.
Ia menegaskan, Pemprov Jawa Tengah tidak ingin berhenti hanya pada kawasan Semarang Raya. Sebelum penandatanganan dilakukan, pihaknya bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah telah mengusulkan sejumlah kawasan aglomerasi lain untuk masuk tahap berikutnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Kami juga mengusulkan aglomerasi lain di Jawa Tengah seperti Pati Raya, Tegal Raya, dan Pekalongan Raya. Ini harus kita sinergikan bersama agar persoalan sampah di Jawa Tengah benar-benar bisa selesai sesuai arahan Presiden, yakni menuju zero sampah,” ujarnya.
Menurutnya, skema penanganan sampah di Jawa Tengah nantinya akan berjalan melalui dua jalur sekaligus.
Jalur pertama melalui investasi Danantara yang mengolah sampah baru menjadi energi listrik. Dalam skema Semarang Raya, fasilitas PSEL di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang akan mengolah sekitar 1.100 ton sampah per hari, terdiri atas 1.000 ton dari Kota Semarang dan 100 ton dari Kabupaten Kendal.
Sementara jalur kedua dilakukan melalui kerja sama dengan TNI untuk mengolah timbunan sampah lama menjadi bahan bakar solar.
“Dua-duanya bisa berjalan bersama. Sampah baru diolah menjadi listrik, sementara sampah lama kita ubah menjadi fuel atau solar. Jadi persoalan sampah bisa kita tangani dari dua sisi sekaligus,” katanya.
Taj Yasin menilai pendekatan tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mendukung kebutuhan energi nasional.
“Kita tahu persoalan sampah sudah menumpuk di banyak kabupaten/kota dan menjadi masalah bersama. Di sisi lain kita juga membutuhkan energi yang kuat. Jadi ini bagaimana mengubah musuh menjadi teman,” ujarnya.
Terkait pendanaan, ia menyebut pembangunan fasilitas akan sepenuhnya ditopang investasi dari Danantara maupun investor yang terlibat dalam skema bersama TNI.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Proses administrasi diperkirakan berlangsung selama enam bulan, sedangkan pembangunan fisik membutuhkan waktu hingga dua tahun sebelum dapat beroperasi penuh.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan persoalan darurat sampah nasional.
“Presiden berkali-kali menegaskan, kita tidak mungkin menjadi negara maju kalau persoalan sampah saja tidak bisa kita selesaikan. Sampah ini menyebabkan polusi tanah, air, udara, dan mengancam kesehatan masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Zulhas itu.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini memprioritaskan penanganan 25 lokasi darurat yang mencakup 62 kabupaten/kota dengan timbunan sampah di atas 1.000 ton per hari.
Pemerintah menargetkan seluruh lokasi darurat tersebut mulai terselesaikan dalam tiga tahun ke depan.
“Administrasi kita targetkan selesai enam bulan, pembangunan dua tahun. Tahun 2027 separuh selesai, Mei 2028 seluruh titik darurat selesai,” tegasnya.
Program tersebut berjalan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Zulkifli Hasan juga menegaskan keberhasilan program sangat bergantung pada kepemimpinan kepala daerah.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Kuncinya ada di gubernur, bupati, dan wali kota. Pemerintah pusat tidak mungkin mengurus sampai detail ke daerah. Kalau semua bergerak bersama, persoalan ini bisa selesai,” katanya.
Sementara itu, Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmika mengatakan proyek di TPA Jatibarang Semarang menjadi sangat mendesak mengingat tingginya volume sampah yang terus menumpuk.
Menurutnya, pengelolaan sampah nantinya dilakukan secara terpisah namun tetap saling melengkapi.
Sampah baru akan diolah oleh fasilitas PSEL milik Danantara dengan kapasitas 1.100 ton per hari untuk menghasilkan energi listrik, sedangkan timbunan sampah lama akan diolah bersama TNI menjadi bahan bakar solar.
“Jadi semuanya masuk di Jatibarang, tetapi bahan bakunya berbeda. Sampah lama diolah menjadi solar agar timbunan habis, sedangkan sampah baru langsung diolah menjadi listrik,” jelasnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil audiensi sebelumnya, pengolahan satu juta ton sampah diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 50 ribu liter solar.
Untuk mendukung proyek tersebut, Pemerintah Kota Semarang akan menyiapkan lahan seluas 4 hingga 5 hektare, termasuk meratakan kontur tanah serta akses jalan menuju lokasi pembangunan.
Secara umum, proyek ini menjadi bagian penting dari langkah Jawa Tengah menghadapi krisis pengelolaan sampah yang terus meningkat di berbagai daerah. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar