Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » WOW !! Candi Borobudur Dikepung Sesar Aktif, Yakni Merapi, Merbabu dan Progo

WOW !! Candi Borobudur Dikepung Sesar Aktif, Yakni Merapi, Merbabu dan Progo

  • calendar_month Kam, 1 Des 2022

BNews–MAGELANG– Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur dan pembangunan lainnya di Jawa Tengah harus mengacu pada peta kegempaan. Hal itu mengingat wilayah Jawa Tengah dilintasi sejumlah sesar aktif.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan sudah ada peta yang disiapkan dan memuat informasi beberapa titik sesar aktif di wilayah Jawa Tengah. Di kawasan Candi Borobudur, salah satu titik sesar yang patut diwaspadai yakni di Merapi – Merbabu.

Sesar Progo

Berdasarkan penelitian mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 3-7 Juni 2018, sebagaimana dilansir dari laman resmi UGM; kawasan Candi Borobudur terletak pada zona rawan gempa tektonik yang diakibatkan oleh subduksi lempeng Samudera Indo-Australia terhadap lempeng Benua Eurasia yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa.

Di sekitar Candi Borobudur pula terdapat Sesar Progo yang merupakan sesar aktif. Sesar ini diperkirakan sepanjang 35 kilometer dan dapat menimbulkan gempa berkekuatan 6,9 magnitudo.

Berdasarkan catatan sejarah, Candi Borobudur telah beberapa kali diguncang gempa bumi yang mengakibatkan runtuhnya beberapa bagian candi. Adapun berdasarkan Katalog Gempa Bumi Merusak yang dirilis Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kawasan Magelang beberapa kali tercatat diguncang gempa.

Salah satu yang terkuat terjadi pada 25 Januari 2014 dengan kekuatan hingga 6,5 magnitudo. Pusat gempa bumi berada 119 kilometer dari Cilacap.

Gempa berkekuatan 5,6 magnitudo juga pernah terjadi pada 14 Februari 1976. Pusat gempa berada di Purwokerto namun getarannya terasa hingga Magelang, Ajibarang, Kedung Banteng, Tegal, Brebes, Pekalongan dan Semarang.

Gempa terjadi di kawasan Kedu dan Magelang pada 21 Februari 1877. Namun tidak diketahui berapa kekuatan getaran gempa.

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8. Di kawasan Candi Borobudur ini ternyata terdapat danau purba yang memiliki lebar sekitar 8 kilometer sekitar 10 ribu tahun yang lalu atau Kala Plistosen Akhir.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Danau tersebut hilang akibat proses alamiah dan non alamiah karena mengalami proses pendangkalan. Hal itu dapat diamati dari material penutup endapan danau yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik, tektonik, gerakan masa tanah dan batuan, serta aktivitas manusia. Bahkan jejak lingkungan danau juga dapat ditelusuri dari relief candi dan troponin yang menunjukkan adanya lingkungan danau.

Dosen Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta, Ir. Helmy Murwanto, M.Si., memaparkan keberadaan danau purba di sekitar candi Borobudur dapat dikenali melalui singkapan endapan danau berupa lempung hitam yang tersingkap.

Endapan danau yang tersingkap ini diakibatkan oleh proses geomorfologi. Sebaran endapan lempung hitam cukup luas itu ditemui di lembah sungai pacet yang berada di kaki Bukit Tidar, Mertoyudan yang diperkirakan sebagai bagian utara danau, hingga mencapai lembah sungai Sileng kaki pegunungan Menoreh sisi selatan danau.

“Kedua singkapan tersebut mempunyai jarak sekitar 8 kilometer,” kata Helmy dalam ujian promosi doktor di Fakultas Geografi UGM, Sabtu (7/2). Dari hasil penelitian disertasinya, Helmy mengungkapkan material penutup endapan danau berasal dari material vulkanik dan sedimen dari pegunungan Menoreh.

Didukung hasil interprestasi citra satelit menunjukkan bahwa beberapa tempat merupakan lembah yang menyerupai alur sungai. Lembah tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk lahan pertanian. Lembah ini terdapat di sekitar desa Bumisegoro, Pasuruhan, Saitan dan Deyangan.

Adapun perubahan bentuk lahan danau menjadi dataran lakustrin disebabkan oleh aktivitas vulkanik, tektonik, longsoran lahar dan aktivitas manusia.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pendangkalan danau menjadi dataran lakustrin diakui Helmy tidak berlangsung dalam satu waktu tetapi berkali-kali. Tidak hanya itu, perubahan pola aliran sungai yang mengalir ke danau purba Borobudur terbentuk akibat proses pendangkalan dan pengeringan danau.

Keberadaan jalan lurus penghubung antara Candi Mendut, Pawon dan Borobudur dimungkinkan keberadaannya setelah danau mengalami pengeringan secara sebagian. “Aktivitas manusia di sekitar candi Borobudur dipengaruhi oleh keberadaan danau. Hal ini terefleksikan dalam relief Candi Borobudur dan troponin di sekitar candi Borobudur,” ujarnya.

Dari hasil pemetaan spasiotemporal, danau ini dibagi menjadi tiga periode yakni Kala Plistosen Akhir, Kala Holosen dan Kala Resen. Pembagian waktu ini didasarkan pada hasil uji umur batuan. Pada masing-masing Kala tersebut mempunyai luasan danau yang sangat berbeda-beda. Kala Plistosen Akhir atau di atas 10 ribu tahun yang lalu. “Danau ini sangat luas dan saat itu masih belum terdapat peradaban dan bahkan Candi Borobudur saja belum dibangun,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

About The Author

  • Penulis: Borobudur News

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less