Adik Sultan Keraton Jogja Permasalahkan Sabda Raja, Ini Tanggapan Ahli

BNews—JOGJAKARTA— Timbul permasalah kembali dalam hubungan internal Keraton JogJakarta yang menjadi sorotan publik. Dimana Adik Sultan Hamengku Buwono (HB) X, yaitu GBPH Yudhaningrat (Gusti Yudha) mengungkit lagi soal Sabda Raja pada tahun 2015.

GBPH Yudhaningrat beranggapan, bahwa Sabda Raja pada tahun 2015 menyalahi Paugeran (tradisi adat Keraton).

Dhawuh Raja atau Sabda Raja yang disampaikan Sultan HB X enam tahun lalu itu berisi penunjukan putri pertama Sri Sultan HB X, yaitu GKR Mangkubumi, sebagai putri mahkota. Penunjukkan itu dianggap menyalahi Paugeran.

Kepala Program Studi Sastra Jawa Universitas Indonesia Arie Prasetyo menilai, Sultan HB X bisa menggunakan hak prerogatifnya untuk menentukan siapa penerusnya.

Termasuk, salah satunya adalah dengan menggunakan haknya mengeluarkan Sabda Raja pada tahun 2015. Secara filosofis, Sabda Raja adalah penunjukan putri pertama Sri Sultan HB X, yaitu GKR Mangkubumi sebagai putri mahkota.

”Setahu saya memang raja itu kan tidak bisa kita pandang secara demokratis, artinya semua menjadi hak prerogatif raja, terserah beliau mau memilih siapa,” ujar Arie dikutip Kumparan (28/1/2021).

”Memang yang saya ketahui secara turun temurun ada garis lurus ke bawah dan menyamping. Setahu saya garisnya selalu lurus ke bawah, dari ayah ke anak. sehingga ketika itu terjadi, ya, ke anaknya. kebetulan anaknya perempuan,” lanjut Arie.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Namun, Arie menilai secara historis Keraton Jogjakarta merupakan warisan kerajaan Mataram Islam. Dalam garis takhta kerajaan Mataram, belum dikenal adanya pemimpin perempuan alias ratu.

”Kalau Mataram Islam memang belum ada, ya. Paling kalau kita mau mengacu pada ratu perempuan mungkin yang terkenal Ratu Shima (penguasa Kerajaan Kalingga) 674 Masehi. Kalau Mataram belum pernah ada, dari Panembahan Senopati sampai HB X ini belum pernah menemukan data itu,” ujar Arie.

Lebih lanjut Arie juga menilai apa yang dilakukan Sultan HB X ini ingin menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Selain karena Sultan HB X tak memiliki anak laki-laki, Sultan diduga juga membawa isu emansipasi wanita.

”Termasuk ada isu emansipasi, feminisme, itu gelombang-gembang besar yang saya kira akan sangat punya kekuatan besar dalam mencairkan kebekuan itu,” ujar Arie. (bsn/han)

2 Comments
  1. Altek says

    Adik sri sultan mungkin pendidikan nya politik demokrasi barat jadi pengangkatan putra nahkota kudu pake pilkades

  2. Khamid Bdg says

    Sabdo pandhito Ratu. Pasti ada yang pro dan kontra daro keluarga dalem. Sudah hukum alam

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: