Kerajinan Beduk Asal Grabag Magelang Ini Tembus Pasar Luar Negeri

BNews—GRABAG— Bedug menjadi salah satu penanda masuknya waktu shalat dan menjadi ciri khas Indonesia. Salah satu perajinnya berasal dari Dusun Bleder Desa Ngasinan Kecamatan Grabag.

Bedug bedug ini diproduksi oleh Zaemadi, 61. Dia dibantu puluhan karyawan yang dipekerjakannya.

Sudah tak terhitung berapa bedug yang berhasil mereka produksi. Beduk-nya pun telah dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Medan, Riau. Untuk luar negeri, beduk-nya sudah sampai Italia dan paling banyak dipesan dari Malaysia.

Ada 10 orang perajin yang bekerja membantu membikin dan mengukir beduk. Ukiran kaligrafi yang dibuat secara manual sesuai permintaan, tetapi umumnya adalah bacaan Hayya Alas Salah dan Hayya Alal Falah, yang berisi seruan atau ajakan untuk salat. 

Seperti halnya azan, beduk ini juga berfungsi memberikan penanda dan mengingatkan orang-orang untuk shalat. “Saya membuat beduk sejak tahun 1991. Dulu sebelum bikin ini, saya kerja bakul sapi, tetapi bangkrut. Rumah saya jual buat bayar utang. Setelah itu nyoba peruntung ke jakarta, jadi buruh apa saja. Lalu pulang lagi, bikin arang dan dijual. Sampai akhirnya bikin beduk ini,” kata Zaemadi.

Dari beduk ukuran biasa berdiameter 80 sentimeter dengan panjang 1,25 meter hingga beduk berdiameter 130 sentimeter, panjang 160 sentimeter. Dari yang seharga Rp 15 juta, sampai yang terjual Rp 52,5 juta.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Untuk satu beduk, lama pengerjaannya bervariasi. Ada yang hanya delapan bulan, tetapi juga ada yang sampai setahun lebih. Proses pengeringan kayu yang memakan waktu cukup lama, hingga setahun. Pembuatannya relatif cepat, beberapa bulan saja, tergantung tingkat kesulitan.

“Lama pengerjaan, semisal kalau tebang pohonnya bulan satu, maka harus menunggu delapan bulan sampai setahun untuk mengeringkan kayunya. Proses pengeringannya masih manual, dengan sinar matahari sehingga waktu lama,” ujar Zaemadi.

Kayu yang digunakan dari pohon Sengon, Albasia, dan Munggur yang memiliki diameter yang besar. Pohon dengan diameter besar tersebut sudah jarang ditemukan di Magelang, sehingga kayu harus diambil dari wilayah Purworejo, Semarang, dan Temanggung. 

Kulit beduk sendiri juga dicarikan kulit sapi yang khusus. Kulit sapi jawa terutama. Kulit sapi varietas itu dinilai lebih kuat.

Beduk buatan Zaemadi dan para perajin diklaim tahan lama hingga puluhan tahun. Bisa jadi bedug di masjid kalian adalah karya beliau. (her/wan)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: