Mengenal Fenomena Solstis yang Viral di Medsos, Benarkah Tak Boleh Keluar Rumah?
- calendar_month Sel, 20 Des 2022

Matahari terbit. ilustrasi (Gambar oleh NoName_13 dari Pixabay)
BNews—NASIONAL— Beredar di media sosial soal imbauan larangan keluar rumah saat 21 Desember 2022. Hal ini berkaitan dengan adanya fenomena Solstis.
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang Hasanuddin menyebut bahwa dampak solstis yang dirasakan manusia tidak seekstrem yang dinarasikan.
“Dampak solstis yang dirasakan oleh manusia tentu tidak seekstrem yang dinarasikan seperti pada imbauan yang disinformatif dan menyesatkan,” katanya dalam laman Edusainsa BRIN, dikutip Selasa (20/12/2022).
Dia menjelaskan, Solstis hanyalah fenomena astronomis biasa. Solstis berasal dari bahasa Latin Solstitium yang terdiri dari dua kata, Sol yang bermakna Matahari dan Stitium (bentuk kerja: Sistere) yang berarti tempat berhenti, singgah atau balik.
“Sehingga, Solstis dapat disepadankan dengan Titik Balik Matahari,” jelasnya.
Solstis dapat didefinisikan sebagai peristiwa ketika Matahari berada paling Utara maupun Selatan ketika mengalami gerak semu tahunannya, relatif terhadap ekuator langit (perpanjangan/proyeksi khatulistiwa Bumi pada bola langit).
Solstis terjadi dua kali setahun yakni di bulan Juni dan bulan Desember. Pada tahun 2022, Solstis Juni terjadi pada 21 Juni pukul 16.13.19 WIB / 17.13.19 WITA / 18.13.19 WIT. Sedangkan Solstis Desember terjadi pada 22 Desember pukul 04.49.14 WIB / 05.49.14 WITA / 06.49.14 WIT.
IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)
Solstis disebabkan oleh sumbu rotasi Bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika (sumbu kutub utara-selatan ekliptika).
Saat Bumi berotasi, juga sekaligus mengorbit Matahari, sehingga terkadang Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara condong ke Matahari, sementara Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan menjauhi Matahari. Inilah kondisi saat Solstis di bulan Juni atau disebut juga Solstis Juni.
Sebaliknya, terkadang Kutub Selatan dan Belahan Bumi Selatan condong ke Matahari, sementara Kutub Utara dan Belahan Bumi Utara menjauhi Matahari. Inilah kondisi saat Solstis di bulan Desember, atau disebut juga Solstis Desember.
Secara umum, solstis berdampak pada gerak semu harian Matahari ketika terbit, berkulminasi dan terbenam; intensitas radiasi Matahari yang diterima permukaan Bumi; kemudian berdampak pada panjang siang dan panjang malam; serta berdampak ke pergantian musim.
Lanjut Andi, sekalipun di hari terjadi solstis ini terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, maupun banjir rob, fenomena-fenomena tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan solstis.
Karena solstis merupakan fenomena murni astronomis yang juga dapat mempengaruhi iklim dan musim di Bumi. Sedangkan fenomena-fenomena tersebut disebabkan oleh masing-masing dari aktivitas vulkanologis, seismik, oseanik, dan hidrometeorolog.
Jika #KawanBRIN dan #SobatAntariksa menemukan berita maupun imbauan yang berasal dari pihak yang belum tentu jelas kebenarannya dan kurang dapat dipercaya, dimohon untuk tidak mudah percaya begitu saja. Dan berhenti menyebarkan berita/imbauan tersebut, juga dapat mengedukasi sekaligus meluruskan berita/imbauan tersebut dari pihak yang terpercaya. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 7





Saat ini belum ada komentar