Mengenang Tragedi Pagebluk yang Menewaskan Puluhan Warga di Magelang Secara Misterius

BNews—MUNGKID— Sebuah wabah penyakit yang menyerang Desa Kanigoro, Kecamatan Ngablak, di Magelang, Jawa Tengah Juli 2007 silam. Sedikitnya sepuluh warga meninggal dunia dengan cara misterius.

Dalam kurun waktu lima hari sejak hari Minggu 22 Juli-27 Juli 2007 sudah jatuh 33 korban. Sebanyak 10 orang di antaranya meninggal dunia.

Para korban jatuh dengan gejala yang nyaris sama. Mereka mengalami mual, badan lemas, diare, dan muntah-muntah, sebelum tak sadarkan diri. Ada yang meninggal dunia, ada pula yang dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan.

Penyakit itu menyerang dalam tempo cepat. Ngadinah salah satu warga pernah bercerita, pada hari minggu itu, dia dan suaminya masih sempat mensalatkan Parsih, 61 tahun, kakak kandungnya yang terserang penyakit.

Tak sampai 12 jam kemudian, giliran sang suami, Samsudi, 56 tahun, yang meninggal dunia. Setelah itu, berturut-turut adiknya, Surami, 37 tahun, dan keponakannya, Musi, 36 tahun, yang meninggal dunia dengan gejala serupa.

Petaka yang juga dialami warga dusun yang lain itu, sontak membuat gempar, tak hanya di Kanigoro, tapi sampai ke seluruh negeri.

Departemen Kesehatan pun menurunkan timnya untuk meneliti sebab musabab peristiwa tersebut. Tak ketinggalan para peneliti dari berbagai lembaga. Adapun petugas medis sibuk mengurusi para korban supaya tidak bertambah.

Loading...

Spekulasi muncul kala itu. Banyak yang menyebutya sebagai kejadian misterius alias pagebluk.

Meski belakangan dibantah dinas Kesehatan Kabupaten Magelang. Saat itu, kepala dinas kesehatan dr Hendrato mengatakan gejala yang ditimbulkan sama dengan keracunan zat kimia. Menurut dia, petugas Dinas Kesehatan Magelang telah memeriksa seluruh pasien yang terkena penyakit misterius tersebut.

Karena gejalanya sama dengan orang keracunan zat kimia, maka pihaknya hanya memberikan penangkal racun dan obat untuk menguras perut. ”Gejalanya memang mirip dengan keracunan zat kimia, seperti mual,kepala pusing, dan reaksi yang cepat membuat orang meninggal,” ujarnya kala itu.

Menteri Kesehatan sempat melontarkan dugaan bahwa wabah penyakit di Kanigoro disebabkan oleh tempe gembus yang tercemar mikroba beracun bernama Pseudomonas cocovenenans. Bakteri ini umumnya ditemukan pada tempe bongkrek. Pernyataan ini serta merta ditampik para penduduk desa.

Pasalnya, tak semua korban yang jatuh telah mengkonsumsi makanan yang terbuat dari ampas perasan kedelai untuk membuat tahu itu. Dr Ari Fahrial Syam, seorang spesialis dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, mengatakan, gejala klinis seperti mual dan muntah hebat.

Kemudian disertai peningkatan enzim lever sampai angka ribuan, kadar gula darah menurun drastis, dan penurunan kesadaran, menandakan bahwa para korban telah mengalami kegagalan fungsi hati yang akut (Accute Liver Failure).

“Bila tidak segera ditangani, angka kematiannya mencapai 60 sampai 70 persen,” ujar dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini, kala itu.

Tapi mengingat adanya temuan pada otopsi dua korban, yakni pembengkakan di berbagai organ seperti otak, pankreas, liver, usus rusak berat. “Maka itu disebut gagal organ multiple,” katanya. (dikutip dari berbagai sumber)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: