Pemulung Lari Diteriaki Maling dan Dipukul Warga, Ternyata Dikejar Anjing

BNews–NASIONAL-– Viral sebuah video seorang pemulung dihakimi massa karena dituduh pencuri. Padahal sebenarnya, pemulung tersebut lari karena takut dikejar anjing (21/5/2020).

Dalam videonya seorang pria paruh baya menarik seorang pemulung dengan penuh amarah. Pria tersebut bahkan mengambil sapu lidi dan memukuli salah satu pemulung itu berkali-kali.

“Aku tidak ada ngambil, aku tidak ada ngambil,” teriak salah satu pemulung berbaju hitam.

Remaja yang membawa karung putih itu lantas diminta pergi oleh seorang perempuan yang merasa kasihan dengan pemukulan itu. Perempuan itu juga menjelaskan, bahwa pemulung tersebut lari lantaran dikejar anjing.

Meski telah dijelaskan, pria paruh baya itu tetap tak bisa menahan amarahnya hingga ditahan oleh seorang warga. Beberapa warga pun terlihat berdatangan untuk melerai.

Kedua pemulung tersebut terlihat memberikan pembelaannya, hingga salah satu di antaranya sampai menangis.Peristiwa itu terjadi Pajak Rengit Tuntungan, Medan, Sumatera Utara.

KASUS BERAKHIR DAMAI, SAKSI SOSIAL MENUNGGU
Loading...

Berdasarkan penelusuran, kasus penganiayaan itu telah berakhir secara damai. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera, Uba Pasaribu (22/5/2020).

Kedua anak pemulung yang jadi korban pemukulan karena disangka mencuri itu bernama Rindu Sinaga, 17 dan Raja Sinaga, 15. “Kejadian itu bermula saat kedua anak tersebut tengah memulung dan melewati rumah pelaku. Kebetulan di depan rumah pelaku ada tong sampah, sehingga kedua pemulung itu mengorek sampah di sana,” katanya.

Namun, saat mereka tengah mengorek sampah anjing menggonggong, kemudian mereka lari. Tapi mereka malah diteriaki maling saat pemilik rumah keluar.

“Dibukalah pintunya itu, terus keluar anjingnya ya digigitlah anak itu,” terangnya.

Atas inisiatif kepala desa setempat, kedua anak itu akhirnya dibawa berobat. Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan tidak membawa kasus ini ke jalur hukum.

“Berdamai karena ada beberapa pertimbangan aspek yang harus kita pikirkan kenapa kita terima perdamaian,” ungkapnya.

Menurutnya, kalau sudah masuk ke meja hukum, ke ranah hukum bolak-balik nanti dipanggil ke sana ke mari. “Mereka juga dari keluarga tak mampu, ya udah terima aja perdamaian, biarlah media sosial yang menghukum pelakunya,”pungkasnya. (*/her)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: