Pertempuran Ambarawa, Bukti Perjuangan Indonesia di Masa Kemerdekaan

BNews—AMBARAWA—Palagan Ambarawa adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat Indonesia melawan serdadu Inggris. Peristiwa ini berlangsung sekitar akhir tahun 1945 dan saat ini setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika.

Peristiwa bermula saat pendaratan pasukan Inggris di Jateng untuk menyelamatkan para tawanan dan interniran yang ditahan pasukan Jepang. Pasukan tersebut bergerak menuju daerah Magelang dan Ambarawa.

Daerah Ambarawa memang jadi kota militer bagi Belanda di masa kolonial. Saat kependudukan Jepang, daerah ini terdapat juga kamp interniran dan dalam misi pembebasan tawanan tersebut tidak berjalan mulus sesuai rencananya.

Benedict Anderson dalam bukunya Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 menyebut timbul perselisihan karena sikap orang Belanda yang diperbantukan pada satuan Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI).

RAPWI sendiri bertugas menangani tawanan perang dan para interniran. Akhirnya bentrokan antara tentara Sekutu dengan TKR dan laskar pemuda tak bisa dihindari sementara pada 20 November 1945 mulai pecah pertempuran Ambarawa.

Dalam buku The British Occupation of Indonesia: 1945-1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution yang disusun Richard McMillan. Menyebut pejuang Indonesia memblokade sejumlah jalan dan menembaki pasukan Inggris.

“Pasukan Inggris membalas dengan senapan mesin dan mortir,” tulis McMillan.

Kemudian Pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris dipanggil untuk membantu penyerangan melalui  udara. Pasukan Inggris yang ketika itu berada di Magelang juga ditarik untuk membantu kawan-kawannya dalam pertempuran Ambarawa.

Panglima Besar Sudirman, yang baru saja terpilih sebagai pimpinan TKR pun langsung mengambil komando pasukan dan mengkoordinir pertempuran tersebut. TKR dari sejumlah daerah di Jateng, diperintahkan turut mengepung wilayah Ambarawa.

Banyak korban berjatuhan dalam pertempuran tersebut, salah satunya adalah perwira senior TKR, Letnan Kolonel Isdiman. Perwira tersebut gugur terkena berondongan senapan mesin pesawat tempur dan tempat gugurnya, kini diabadikan menjadi Monumen Palagan Ambarawa.

Memasuki pertengahan bulan Desember, posisi pasukan Inggris semakin terjepit dalam pertempuran tersebut. Apalagi banyak interniran yang harus dilindungi dan pada 8 Desember 1945, kelompok interniran terakhir berhasil diungsikan ke Semarang.

Download Musik Keren Disini

Berhari-hari berada dalam kepungan membuat pasukan Inggris memutuskan mundur dari Ambarawa. Lebih lanjut, Garnisun terakhir tercatat meninggalkan Ambarawa pada 14 Desember 1945.

Sehari kemudian atau pada 15 Desember 1945, pertempuran Ambarawa yang kemudian dikenal sebagai Palagan Ambarawa berakhir. (*/mta)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: