Raih 40 Penghargaan Dalam Setahun, Ganjar : Tak Berarti Apa-apa

BNews—SEMARANG— Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Wakil Gubernur Taj Yasin sudah menorehkan berbagai penghargaan dari pemerintah pusat maupun dari Lembaga non pemerintah. Tercatat sudah hampir 40 penghargaan yang diraih dalam kurun waktu satu tahun.

Namun, bagi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, penghargaan itu justru dinilainya tak berarti apa-apa. “Penghargaan tidak berarti apa-apa jika rakyat masih mengeluh,” katanya Ganjar, kemarin.

Menurutnya, penghargaan hanya bagian dari proses upaya Pemprov Jateng mensejahterakan masyarkat di Jawa Tengah. Ganjar lebih suka menyebutkan program-program yang langsung menyasar rakyat sebagai pencapaiannya. Insentif untuk guru ngaji, ustadz, dan pengurus pondok pesantren se Jateng. Ada 171.131 orang yang mendapat manfaat dari program yang baru kali pertama ada tersebut.

Kemudian, keberhasilan pengumpulan zakat ASN yang mencapai Rp4,7 miliar perbulan. Pencapaian tertinggi se-Indonesia itu berhasil dimanfaatkan untuk pembangunan rumah ibadah, rumah tidak layak huni (RTLH), santunan anak yatim piatu dan sebagainya.

“Tahun 2019 ini kita juga mampu membuat seluruh gedung kantor Pemprov Jateng ramah difabel. Minimal untuk naik di tangganya ada jalur khusus kursi roda,” katanya.

Selain yang sudah disebutkan Ganjar, patut dicatat juga beberapa pencapaian yang sempat menjadi perhatian publik. Satu diantaranya ialah keberhasilan Ganjar merebut kembali lahan PRPP Semarang. Melalui upaya hukum peninjauan kembali di Mahkamah Agung, lahan seluas 273 hektare itu kembali menjadi aset Negara.

Reformasi birokrasi yang dicanangkan sejak 2014 juga melahirkan beberapa terobosan penting. Satu yang disoroti publik adalah keberanian Ganjar mengangkat seorang camat menjadi Kepala Biro, sebuah jabatan eselon dua. Juga kepala sekolah SMK Bawen menjadi Kepala Dinas Pendidikan.

Publik mengapresiasi. Di tengah banyak kepala daerah terkena OTT KPK karena jual beli jabatan, Ganjar mengangkat pejabat melalui proses yang bersih dan transparan.

Ganjar juga diapresiasi karena sistem sistem akuntabilitas keuangan pemprov Jateng berhasil menghemat anggaran Rp 1,2 triliun. Jika pembangunan rumah tidak layak huni hanya butuh Rp 10 juta per unit, hasil penghematan bisa digunakan untuk membangun 120.000 rumah warga miskin.

Bahkan, Kemenpan RB menilai keberhasilan reformasi birokrasi Jateng layak menjadi rujukan provinsi-provinsi lain. “Kami mengapresiasi capaian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam capaian reformasi birokrasinya. Birokrasi di Jawa Tengah ini sudah berjalan sangat baik dan harus role model daerah-daerah lain di Indonesia,” kata Deputi Bidang Reformasi Birokrasi Kemenpan RB, Muhammad Yusuf Ateh pada acara evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) di Semarang, beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui, sejumlah penghargaan bergengsi diraih GanjarPranowo. Diantarnya juara umum top 99 pelayanan publik 2019, Pelapor LHKPN terbaik dari KPK, Opini WTP 8 kali berturut-turut dari BPK, Pengendali Inflasi terbaik nasional se Jawa-Bali,  provinsi terbanyak hasilkan inovasi, Perencana Pembangunan Daerah Terbaik, Government Award 2019 sebagai Indonesian Innovative Leader, dan satu-satunya provinsi berpredikat sangat baik pada Evaluasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) 2018. (lhr/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: