Ternyata Dulu Candi Borobudur Dibangun Dari Batu Penuh Warna

BNews–MAGELANG– Siapa sangka, dulu di awal pembuatan, batu-batu Candi Borobudur tidak berwarna hitam, melainkan penuh warna-warni. Hal tersebut ditegaskan A.J. Bernet-Kempers dalam Ageless Borobudur.

Dijelaskan, bahwa Borobudur pada masa lalu ditutup dengan plaster Vajralepa berwarna putih dan kemudian diwarnai. Candi Borobudur tidak lepas dari sejarah panjang berkembangnya agama Buddha di Indonesia.

Borobudur menjadi harta karun Indonesia yang paling berharga bahkan Dunia. Menurut catatan sejarah, candi dibangun sekitar tahun 800 masehi, masa pemerintahan Dinasti Syailendra.

Terletak di Magelang, Jawa Tengah, pembangunan Candi Borobudur membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun. Proses pembangunan Candi Borobudur, rampung pada masa pemerintahan raja Samaratungga tahun 825.

Meski selesai dibangun, tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan siapa sosok yang membangun Candi Borobudur. Pasalnya, pada masa itu agama Hindu dan Buddha berkembang bersamaan di pulau Jawa.

Masyarakat setempat banyak yang menyebut kalau pembangunan Candi Borobudur menggunakan putih telur. Tentu saja tidak. Apa yang dimaksud tidak lain adalah Vajralepa atau pelapis dinding yang berwujud plaster putih kekuningan.

Berfungsi untuk memperhalus dan memperindah sekaligus melindungi dinding dari kerusakan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Vajralepa sendiri kadang dieja ‘Bajralepa’ yang bermakna ‘lepa intan’ yaitu bahan lepa pelapis dinding candi semacam plaster.

Vajralepa terbuat dari campuran gamping, batu putih atau tuf dengan bahan tumbuhan seperti getah pohon.

Vajralepa kemudian diaplikasikan pada andesit dan kemudian dicat dengan warna-warna cerah.

Jan Fontein dalam Entering the Dharmadhātu menjelaskan, Borobudur pada masa lalu dilapisi oleh Vajralepa.

Bagian yang dilapisi Vajralepa adalah stupa dan dinding serta lantai candi. Seperti Jan Fontein. AJ Bernet-Kempers dalam Ageless Borobudur juga menjelaskan hal yang sama.

Pendapat Fontein dan Bernet-Kempers ini diamini oleh John Miksic dalam Mysteries of Borobudur Discover Indonesia. Pada masa lalu, seluruh batu di Candi Borobudur dilapisi oleh plester Vajralepa yang kemudian diwarnai.

Akan tetapi karena waktu lebih dari seribu tahun, vajralepa dan warna yang menutupi Borobudur akhirnya luntur.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Pada masa kini jika berkunjung ke candi tersebut, hanya bisa melihat sisa-sisa vajralepa. Sisa-sisa vajralepa yang berwarna putih-kuning, terlihat pada bagian beberapa relief maupun arca dan stupa.

Candi dibangun kurang lebih masih satu jaman dengan Candi Sewu (Manjushrigrha), Candi Kalasan (Tarabhavanam) dan Candi Sari.

Semua candi tersebut diketahui juga menggunakan vajralepa untuk menutupi seluruh bagian batu. Pada masa lalu candi-candi yang dilapisi vajralepa ini, berwarna-warni dan jelas tampak begitu indah dan megah.

Kemegahan Borobudur sempat sirna selama berabad-abad karena terkubur lapisan tanah dan debu vulkanik. Thomas Stamford Raffles saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal di pulau Jawa pada 1811, merupakan orang yang berjasa.

Kembalinya kemasyhuran Borobudur terjadi pada masa Thomas Stamford Raffles. Saat Raffles mendengar terdapat sebuah bangunan besar tersembunyi jauh di dalam hutan dekat Desa Bumisegoro.

Raffles kemudian mengutus seorang Insinyur Belanda bernama Christian Cornelius untuk memeriksanya. Tersiarnya kabar penemuan kembali Borobudur menjadi malapetaka, terjadi kerusakan di banyak tempat.

Sampai pada akhir 1960-an pemerintah Indonesia meminta bantuan kepada UNESCO untuk mengatasi permasalahan di Candi Borobudur. Renovasi menghabiskan waktu yang lama dan biaya yang besar sampai penetapan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1991. (*/Radar)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: