4 Anak yang Jadi Pemandu Karaoke Ternyata Juga Layani Pelanggan Berhubungan Badan

BNews—JATENG— Minah alias Yuli, 29, warga Kabupaten Magelang terpaksa berurusan dengan hukum karena diduga mempekerjakan anak-anak di bawah umur menjadi Pemandu Lagu (PL). Ia ditangkap bersama empat gadis yang dua diantaranya sedang melayani pelanggan di room karaoke.

Minah dibekuk Satreskrim Polres Kendal. Ia diduga telah mempekerjakan empat anak di bawah umur sebagai PL.

Empat anak itu adalah RDM, 16; RT, 17; PS, 15; dan AU, 16. Keempatnya merupakan anak-anak asal Kabupaten Wonosobo.

Mereka bekerja selama dua bulan di tempat karaoke Rinjani, kompleks Lokalisasi Alaska, Desa Gedong, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal. Dugaan eksploitasi anak di bawah umur ini dibongkar Satreskrim Polres Kendal pada akhir September 2021.

Kasat Reskrim Polres Kendal, AKP Daniel Artasasta Tambunan mengatakan, saat dilakukan penggerebekan, ditemukan empat anak di bawah umur yang berada di lokasi tempat karaoke. Dua di antaranya sedang menemani pelanggan di sebuah room karaoke.

”Semuanya (PL) di bawah umur asal Wonosobo,” katanya, Selasa (12/10).

”Kami tangkap juga Minah alias Yuli sebagai pengelolanya,” sambungnya.

Daniel mengungkapkan, tersangka Minah mendapat keuntungan Rp50 ribu setiap jam penyewaan room karaoke. Minah juga mendapat jatah Rp50 dari setiap PL yang melayani hubungan badan dengan pelanggan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Setiap kali aktivitas, setiap anak (PL) diminta Rp 50 ribu,” ujarnya.

”Tarifnya pelanggan ngamar ke PK, terserah PK (Pemandu Karaoke. Tersangka mematok uang jasa Rp50,” tambahnya.

Berdasarkan keterangan korban, tersangka Minah sudah mengetahui bahwa keempat korban belum mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) karena masih di bawah umur. Namun, keempat korban tetap diperbolehkan menjadi pemandu karaoke di tempat hiburan itu.

”Ketarangan dari orang tua korban, mereka tidak tahu pekerjaan anaknya sebagai PK. Karena pamitnya dari rumah bukan bekerja di Alaska,” ujarnya.

”Di sini peran penting orangtua untuk menjaga anak, dan memperhatikan kegiatannya,” tambahnya.

Tersangka Minah mengaku, tak ada bujukan atau paksaan kepada korban untuk bekerja sebagai PK. Ia berdalih, empat korban datang melalui perantara seorang teman tersangka, dengan meminta pekerjaan.

”Korban datang sendiri, tidak ada bujukan. Dari teman (Saya), minta kerja diantarkan ke tempat Saya,” akunya.

Minah menegaskan, ia sudah memberitahu kepada korban tentang pekerjaan sebagai PL. Minah pun sebenarnya sudah mengetahui konsekuensi yang bakal ditanggung ketika mempekerjakan anak di bawah umur.

”Sejak awal Saya tidak pernah memaksa. Saya tahu konsekuensinya, dan mereka mau,” kilahnya.

Atas perbuatan tersangka, polisi menjerat dengan Pasal 76 I jo Pasal 88 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya sepuluh tahun. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: