Ada Mitos Pernikahan Orang Suku Jawa dan Sunda, ini Kisahnya

BNews–NASIONAL–  Perang Bubat yang terjadi pada abad ke-14  merupakan insiden perselisihan terbesar antara Suku Jawa dan Suku Sunda. Perang ini menjadi penyebab munculnya mitos larangan pernikahan antara orang Jawa dan Sunda.

Perisitiwa ini diawali kisah percintaan putra mahkota Kerajaan Majapahit, Prabu Hayam Wuruk, dengan putri Kerajaan Negeri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi. Kisah percintaan mereka dieksploitasi oleh Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gadjah Mada, sebagai tanda takluknya Kerajaan Negeri Sunda di bawah Majapahit. Hal ini membuat Prabu Maharaja Kerajaan Sunda, Linggabuana tidak terima dan melakukan perlawanan di Pesanggarahan Bubat.

Singkat cerita, Linggabuana yang datang bersama Dyah Pitaloka serta sejumlah rombongan tewas dalam perang yang dinamakan perang Bubat; karena kalah jumlah melawan pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Gadjah Mada.

Peristiwa perang Bubat ini melahirkan sebuah pantangan yang menjadi mitos berkenaan larangan adanya pernikahan antara suku Sunda dan suku Jawa. Namun sebenarnya mitos itu sudah lama tidak berlaku karena sejak peristiwa perang Bubat tersebut; sudah ada pasangan dari keturunan suku Sunda dan suku Jawa yang memadu kasih hingga menikah dan bahagia hingga akhir hayat.

Berdasarkan pantauan Borobudurnews.com melalui solopos memantau melalui video di kanal Youtube Eyang Sudarto yang berjudul Penganten Jawa dan Sunda, Senin (28/2/2022), Eyang Sudarto sebagai naravlog bidang sejarah Tanah Jawa menjelaskan bahwa mitos larangan pernikahan antara Suku Jawa dan Suku Sunda sudah disinergikan melalui pernikahan Raden Adipati Andeng dengan Retno Marlangen.

Diketahui Raden Adipati Andeng adalah anak dari pendiri Kerajaan Singgelopuro bernama Haryo Bangah, putra sulung dari Sri Pamekas atau Muding Pamekas yang merupakan Raja Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Sedangkan Retno Marlangen adalah adik ipar dari Prabu Hayam Wuruk, Raja Kerajaan Majapahit.

Dalam kisah parahyangan, pada 1245 Masehi,  Haryo Bangah yang juga dikenal dengan sebutan Batara Loano pergi meninggalkan Kerajaan Sunda dan bergerak ke arah timur untuk mencari adiknya, Joko Sesuhuh yang kalah perang melawan adik bungsunya Ciungwanara yang berhasil mengkudeta kerajaan.

Berdirinya Kerajaan Singgelopuro

Dalam perjalanannya, Haryo Bangah terdampar di tanah Bagelen karena sakit sehingga perjalanan harus terhenti sementara. Singkat cerita, Haryo Bangah tidak bisa melanjutkan perjalanannya dan menetap di Tempuran yang saat ini bernama Kecamatan Banyurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Saat tiba di Tempuran, Haryo Bangah dan rombongan bertemu dengan warga lokal. Warga lokal menyebut mereka sebagai rombongan sing gelo yang artinya rombongan yang kecewa karena tidak bisa melanjutkan perjalanan menuju timur pulau Jawa untuk bertemu dengan Joko Sesuhuh. Selama tinggal di Tempuran, Haryo Bangah disegani oleh masyarakat setempat karena perilaku dan kesaktiannya.

Hingga akhirnya, Haryo Bangah mendirikan kerajaan bernama Singgelopuro di kawasan Tempuran tersebut., Haryo Bangah menjalani kehidupan normal selayaknya warga setempat. Dia menikah dengan wanita setempat dan memiliki dua anak bernama Anden dan Mangguyu. Saat sudah menginjak masa remaja, Haryo Bangah mengutus anak sulungnya, Pangeran Anden untuk menimba ilmu ke Kerajaan Majapahit pasca perang Bubat.

Prahara Rumah Tangga Pangeran Andeng dan Nyai Dewi Retno Malangen

Saat berada di Kerajaan Majapahit, Anden jatuh hati dengan Retno Marlangen, adik ipar dari salah satu selir Prabu Hayam Wuruk. Pinangan Pangeran Anden dari Kerajaan Singelopuro itu langsung diterima oleh Prabu Hayam Wuruk dan diizinkan untuk dibawa pulang ke Singgelopuro; dengan maksud supaya dijauhkan dari anak sulungnya, Pangeran Jayakusuma. Kehidupan rumah tangga mereka sempat goyang karena adanya pihak ketiga, yaitu Pangeran Jayakusuma; anak dari Prabu Hayam Wuruk yang tidak terima jika Retno Malangeg dipersunting oleh Pangeran Andeng.

Namun oleh bantuan sang ayah, Haryo Bangah, pendiri Kerajaan Singgelopuro, Pangeran Jayakusuma, bisa ditumpas melalui pertempuran dengan Patih Lowo Ijo. Meskipun Jayakusuma sudah ditumpas; hubungan antara Prabu Anden dan Retno Malangen masih dingin hingga akhirnya, saat Retno Malangen sedang berada di sebuah telaga bersama dayang-dayangnya, Retno Malangen melihat sebuah pohon besar.

Retno terheran-heran dengan pohon tersebut dan bertanya pohon apakah itu dan rasa keingintahuan itu dijawab oleh Pangeran Andeng yang mengikutinya dari belakang di mana sang pangeran menjawab kalau pohon itu bernama Lo. Pertemuan di pohon Lo tersebut bisa mencairkan hubungan yang dingin antara Pangeran Andeng dan Nyai Dewi Retno Malangen.

Karena pertemuan tersebut juga, Pangeran Andeng mendapat julukan Pangeran Andeng Loano yang artinya dibawah pohon Lo. Sejak saat itu, tempat pertemuan antara Pangeran Andeng dan Nyai Dewi Retno Malangen itu diberi nama Loano; yang saat ini menjadi salah satu nama Kecamatan di Kabupaten Purworejo. Kecamatan ini adalah saksi bisu dua insan dari keturunan suku Sunda dan suku Jawa; akhirnya bersatu dan bahagia hingga akhir hayat.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: