Dugaan Bullying di Sekolah, Siswa SD di Wonosobo Meninggal Dunia Usai Dipukul Teman!
- calendar_month Sab, 11 Okt 2025

Dugaan Bullying di Sekolah, Siswa SD di Wonosobo Meninggal Dunia Usai Dipukul Teman!
BNEWS—WONOSOBO— Warga Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, digemparkan oleh kabar meninggalnya; seorang siswa sekolah dasar yang diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh teman sekelasnya.
Kabar duka tersebut beredar luas melalui grup WhatsApp warga sejak Rabu (8/10/2025) pagi dan langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Korban diketahui berinisial TA (9), siswa kelas 3 di salah satu SD negeri di Kecamatan Kertek. Bocah malang itu mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari di ruang ICU RS PKU Muhammadiyah Wonosobo.
Kronologi Versi Ayah Korban
Ayah korban, Dedi Handi Kusuma, menceritakan bahwa tragedi itu bermula pada Selasa (1/10/2025) saat sang anak mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di sekolah.
“Anak saya bilang, saat upacara dia dipukul di bagian perut oleh temannya. Setelah itu dia mengeluh sakit perut dan sesak napas,” tutur Dedi.
Usai kejadian, TA terlihat lemas hingga pulang sekolah. Namun sesampainya di rumah, rasa sakit di bagian perut tak juga reda. Ibunya kemudian membawa TA ke dokter dan diberikan obat.
Dua hari kemudian, kondisi TA semakin memburuk hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu (4/10/2025) sore. Di hadapan dokter, TA sempat tidak mengaku telah dipukul. Namun kemudian, kepada sang ayah, ia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Anak saya ketakutan, sampai bilang ingin pindah sekolah saja. Dari situ saya baru tahu kalau dia mungkin sering diperlakukan tidak baik,” ungkap Dedi.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Mendengar pengakuan itu, keluarga langsung memberi tahu dokter mengenai dugaan pemukulan. TA kemudian mendapat perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU pada Minggu (5/10/2025) sore. Dari hasil rontgen, diketahui terdapat cairan di paru-paru. Tim medis pun melakukan operasi untuk mengeluarkannya.
“Dari hasil operasi, cairan yang keluar hampir dua liter dan warnanya merah segar,” tambah Dedi.
Sayangnya, kondisi TA pascaoperasi terus menurun. Ia sempat sadar beberapa jam sebelum akhirnya kritis dan meninggal dunia pada Selasa malam.
Dedi mengaku, anak ketiganya itu mulai menunjukkan perubahan sikap sejak naik ke kelas 3. TA sering mengeluh tidak betah dan enggan berangkat ke sekolah.
“Sekarang saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Jangan sampai ada anak lain yang mengalami nasib seperti dia,” tegasnya.
Polisi Turun Tangan
Kasus ini kini tengah diselidiki oleh pihak kepolisian. Kasat Reskrim Polres Wonosobo, AKP Arif Kristiawan, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan penyelidikan terkait dugaan perundungan tersebut.
“Kasus ini masih kami dalami. Kendala kami saat ini adalah pihak keluarga menolak dilakukan autopsi, sehingga kami belum bisa memastikan penyebab pasti kematian korban,” jelas Arif dalam keterangan resminya, Jumat (10/10/2025).
Menurutnya, kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit sebagai dasar pengembangan penyelidikan lebih lanjut.
“Kami juga masih menelusuri lokasi kejadian, apakah terjadi di lingkungan sekolah atau tempat lain, karena sejauh ini belum ada saksi maupun rekaman CCTV yang memperlihatkan peristiwa itu,” tambahnya.
Kasus dugaan perundungan yang menewaskan bocah SD di Wonosobo ini pun menjadi perhatian luas masyarakat. Banyak pihak berharap agar penyelidikan berjalan transparan dan kejadian serupa tidak terulang di dunia pendidikan. (*/sumber : Kompas com)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar