IKLAN PARTAI HUT DEMOKRAT

Harus Nafkahi Dua Istri, Seorang Kurir Sembako Nekat Gelapkan Barang

BNews—SLEMAN—Seorang pria di Yogyakarta harus berurusan dengan polisi karena melakukan penggelapan di tempat kerjanya. Aksinya tersebut didorong karena ia harus menafkahi kedua istri dan membiayai pernikahan adiknya.

Pria tersebut berinisial M, 37, warga Minggir, Kabupaten Sleman. Ia melakukan penggelapan distributor sembako di kawasan Godean, Sleman. Diketahui M tidak bertindak sendiri melainkan bersama rekannya berinsial N, 36, warga Wirobrajan, Kota Yogyakarta yang juga bekerja di tempat tersebut.

”M bekerja sebagai pengantar barang, sementara N bekerja sebagai input order yang mencatat pesanan barang,” kata Kanit Reskrim Polsek Godean Iptu Bowo Susilo, Jumat (11/9/2020). Dikutip dari detik.com.

Bowo menjelaskan,  modus yang dilakukan kedua pelaku yakni dengan memasukkan pesanan fiktif ke dalam Rencana Kirim Barang (RKB). Pesanan tersebut dialamatkan ke toko fiktif.

Aksi keduanya pun diketahui oleh pihak perusahaan ketika melakukan audit. Ketika itu, perusahaan tersebut menemukan adanya ratusan faktur fiktif.

”Saat perusahaan melakukan audit internal, ditemukan adanya perbedaan antara account data dan real gudang. Kemudian perusahan melakukan pemelusuran ke toko-toko itu dan ditemukan 100 faktur fiktif,” terangnya.

Bowo mengatakan kedua pelaku memiliki motif berbeda. Kepada polisi, M dan N sepakat melakukan penggelapan karena keduanya memiliki tujuan.

Loading...

Pelaku M yang merupakan otak kejahatan, mengaku membutuhkan uang untuk menghidupi kedua istrinya selain itu untuk menikahkan adiknya.  Sementara N, sebagai penginput order, menginginkan insentif perusahaan.

”N cuma ingin insentif, semua uang digunakan M,” bebernya.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Perusahaan kedua pelaku dilakukan secara bertahap sejak 10-18 Agustus 2020. Adapun barang yang digelapkan yakni 750 kardus mi instan.

”Mie instan tersebut dijual ke toko-toko secara manual. Untuk memudahkan penjualan, pelaku menjual di bawah harga rata-rata. Karena perbuatan keduanya, perusahaan mengalami kerugian sekitar Rp 66 juta,” bebernya.

Kerugian tersebut membuat perusahaan menelusuri dan mengecek ke toko-toko yang disuplai. Kemudian ditemukan ada 100 toko fiktif. Pihak perusahaan pun langsung melaporkan ke polisi.

Dalam kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa 100 lembar faktur, 1 lembar print out rencana realisasi pengiriman, dan surat tugas yang digunakan oleh kedua pelaku.

Kedua pelaku dijerat dengan pasal 374 KUHP, Keduanya terancam hukuman maksimal lima tahun penjara. (*/mta)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: