Hiii… Desa Ini Siapkan Tempat Karantina Keramat untuk Tampung Pemudik

BNews—BOYOLALI— Momentum Idul Fitri 1442 Hijriyah yang semakin dekat membuat masyarakat perantuan ingin bersilaturahmi bersama keluarga di kampung halaman. Namun karena pandemi Covid-19 belum berakhir, pemerintah kembali mengeluarkan larangan untuk mudik demi memutus rantai penyebaran virus corona.

Berbagai langkah dilakukan pemerintah pusat hingga kampung-kampung. Mulai dari penyekatan diperbatasan antarprovinsi sampai menyiapkan tempat karantina bagi warga perantauan yang nekat mudik.

Seperti yang dilakukan Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Des aini memiliki cara unik untuk memberikan imbauan kepada warganya yang merantau agar tidak pulang kampung.

Salah satunya dengan mengkarantina warganya yang datang dari perantauan di sebuah ruangan yang terdapat di lokasi punden atau cikal bakal desa yang terletak di Dukuh Beji. Meski ruangan yang dipergunakan untuk karantina layak pakai, namun lokasi karantina merupakan salah satu tempat yang diyakini keramat dan sakral.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid Desa Sidomulyo, Muh Sawali menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan di desanya ini dilatar belakangi kejadian pada tahun lalu. Dimana warga Kecamatan Ampel yang pertama kali terpapar Covid-19 adalah warga Desa Sidomulyo.

DPD PKS Magelang Ramadhan

”Disitulah muncul pelajaran yang sangat berharga untuk kita, sehingga kita lebih giat untuk mengantisipasi biar sesuatu yang berakibat fatal itu tidak kembali terulang,” ungkapnya, Kamis (29/4).

Dikatakan Sawali, sejak awal bulan Ramadan, pihaknya sudah mengimbau warganya yang merantau agar tidak mudik. Jika ada warga yang tetap mudik dan tidak bisa menunjukkan surat keterangan sehat dari dokter atau surat bebas Covid-19, maka terpaksa harus menjalani karantina selama tujuh hari di lokasi yang sudah disiapkan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Hingga saat ini, sudah ada dua orang perantau yang dikarantina di tempat yang disediakan. Sawali menambahkan, untuk kebutuhan logistik bagi orang yang menjalani karantina di lokasi tersebut, sudah disediakan Satgas Jogo Tonggo desa.

Dengan adanya upaya karantina seperti yang dilakukan oleh pemerintah desanya, Sawali berharap bahwa nantinya para perantau mengurungkan niatnya untuk pulang kampung hanya sebatas untuk bersilaturahmi. ”Toh, silaturahmi sekarang kan bisa, melalui video call dan lain sebagainya,” tegas Sawali.

Salah satu perantau dari Tangerang, Fajar Adi Nugroho, yang kini sedang menjalani karantina di tempat tersebut, mengaku menyesal karena nekat pulang kampung ke desanya. Sebelumnya, Fajar sudah mengetahui tentang larangan pemerintah untuk mudik, namun nekat melakukannya dengan melewati jalan tikus dan berangkat pada malam hari, sehingga bisa lolos dari pantauan yang berwajib.

Ditanya mengenai surat keterangan sehat, pihaknya mengaku belum memilikinya dan hanya asal pulang. Kini dia harus menjalani karantina di lokasi angker yang membuatnya merasa takut.

”Tetep di sana aja dulu. Jangan pulang dulu, daripada dikarantina kaya kita,” pesan Fajar kepada perantau lain. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: