Mak Keti Tinggal Sendirian di Puncak Merapi Pasca Erupsi 2010, Ini Alasannya

BNews—SLEMAN—Erupsi Merapi sepuluh tahun lalu mempora-porandakan sejumlah perkampungan. Hingga membuat penduduk yang selamat terpaksa pindah tempat tinggal, mereka pindah ke hunian tetap (huntap) yang dibangun oleh pemerintah.

Hampir semuanya direlokasi ke sana, kecuali, Mak Keti, 75, warga Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Dirinya bersikeras tetap bertahan sehingga kini ia tinggal sendiri di bekas dusun yang sekarang sudah rimbun pepohonan.

Lokasi rumahnya tak jauh dari Petilasan Mbah Marijan, di halaman rumahnya terpasang sebuah papan kayu yang dihiasi dengan tulisan “Universitas Merapi”. Gunung Merapi, bagi Mak Keti, tidak pernah mencelakai.

Ia percaya selama yakin dan prihatin, dirinya akan terus diiringi keselamatan. Sekali pun ada gemuruh dan asap yang mengepul dari puncak, Mak Keti tak buru-buru menganggapnya sebagai bahaya. Seperti yang sempat terjadi pada Minggu (21/6/2020) saat Gunung Merapi erupsi.

Angin membawa asap ke arah utara, tercatat, delapan dusun kecamatan di Kabupaten Magelang diguyur hujan abu. Ketika itu Mak Keti dan beberapa warga lain sedang mencari rumput.

Mak Keti ketika itu tidak langsung takut. Dia melihat arah angin yang ternyata menjauhkan asap dari tempatnya berdiri. ”Asapnya itu tidak kearah selatan, saya ya biasa saja. Tapi ada juga yang langsung pergi ninggalin rumputnya,” katanya, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, Mak Keti sadar ada kalanya ia harus turun. Ketika ada acara kampung atau bila mendapat pesan dari sosok yang dia yakini sebagai Kiai Sapu Jagat, penjaga Merapi. Menurut Mak Keti, bila ia mendapat dawuh yang mengatakan akan ada bahaya, dia pasti mencari tempat aman.

Mak Keti bahkan percaya jika Kiai Sapu Sagat dan Merapi turut melindungi warga sekitar dari pandemi Covid -19. ”Nah kalau virus itu, jenengan tahu siapa yang jagain sini? Merapi,” paparnya.

Mak Keti dikenal sebagai sosok yang supel, hal itu membuatnya bisa akrab dengan siapa saja. Salah satunya adalah Fakhry Ainur Rahman.

Download Musik Keren Disini

Sekitar tahun 2017 atau dua tahun selepas perjumpaan pertama, Fakhry kembali berkegiatan di Gunung Merapi. Ia pun kembali berjumpa dan yang membuatnya heran adalah Mak Keti begitu akrab sekali mengenalnya.

Seolah seperti baru berpisah dalam waktu yang singkat. ”Itu yang bikin saya kaget, padahal sudah lama tidak bertemu,” pungkasnya. (*/mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: