Nalar Kebudayaan Pengawasan Pemilu, Relevankah?
- calendar_month Sen, 12 Agu 2024

Muhammad Hafidh Koordinator Divisi (Kordiv) SDM, Organisasi & Diklat Bawaslu Kabupaten Magelang
BNews-OPINI– Pengawasan Pemilu, dan juga Pilkada, oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dengan melibatkan; partisipasi masyarakat memegang peran penting dalam memastikan pelaksanaan Pemilu dan juga Pilkada yang adil, jujur, dan transparan.
Di Magelang khususnya, pengawasan Pemilu dan Pilkada mempunyai karakteristik masyarakat yang dapat dikontekstualisasikan dalam pengawasan secara kebudayaan dan kesenian.
Secara geografis, wilayah Kabupaten Magelang, terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu wilayah bawah dan atas.
Wilayah bawah meliputi wilayah yang berada di daerah yang wilayah dataran rendah; dan wilayah atas yaitu warga yang merupakan masyarakat di daerah dengan yang relatif tinggi dari permukaan laut; yaitu di sekitar area lereng gunung dan perbukitan.
Namun secara umum, mayoritas warga Kanupaten Magelang berada di wilayah pedesaan, dalam konteks gelaran event politik.
Selama ini terbukti ikut berperan aktif membentuk karakter dan nilai-nilai seperti transparansi dan keadilan melalui nalar budaya kesenian.
Bagaimana langkah efektif kearifan lokal bergerak efisien?
Penulis mencoba menguraikan konsep-konsep ini sesuai wilayah kerja pengawasan, yang secara umum juga bisa berlaku di Jawa Tenga; khususnya dan juga seluruh wilayah Indonesia, pada umumnya.
Secara teknis selanjutnya penulis urai tentang urgensinya dari perspektif etika, norma, dan politik, serta cara; memanfaatkan kesenian dan kebudayaan dalam proses ini. Bagaimanapun juga, hajat politik harus bisa berkolaborasi; dengan nilai-nilai keseharian secara harmonis, elegan, dan menyenangkan (humoris).
Perspektif Etika dan Norma
Keadilan dan Kejujuran serta Etika menuntut adanya keadilan dan kejujuran dalam proses Pemilu. Pengawasan yang efektif dapat mencegah dan mengatasi praktik curang, sehingga hak suara masyarakat dihargai dan dihormati.
Norma sosial menekankan pentingnya integritas dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam Pemilu. Memastikan Pemilu bebas dari kecurangan adalah wujud penerapan norma tersebut.
Sementara itu, nilai akuntabilitas, Bawaslu, sebagai lembaga pengawas, bertanggung jawab untuk memastikan setiap tahapan Pemilu berjalan sesuai aturan. Akuntabilitas ini bukan hanya kepada hukum, tetapi juga kepada masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam pengawasan meningkatkan akuntabilitas, karena masyarakat dapat memberikan pengawasan langsung dan melaporkan pelanggaran.
Perspektif Politik Keterlibatan Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam pengawasan Pemilu memperkuat demokrasi dengan meningkatkan keterlibatan warga dalam proses politik.
Hal ini menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab atas hasil Pemilu. Pengawasan partisipatif dapat mendorong pemilih untuk lebih aktif dalam kampanye politik dan lebih kritis terhadap calon-calon yang bertarung.
Dalam setiap derap Langkah kepengawasan, transparansi dan kepercayaan publikmenjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik terhadap proses Pemilu.
Pengawasan yang melibatkan masyarakat dapat meningkatkan transparansi dengan memastikan setiap tahap Pemilu diawasi dan dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan publik yang tinggi terhadap proses Pemilu penting untuk stabilitas politik dan legitimasi pemerintahan yang terpilih.
Memanfaatkan Kesenian dan Kebudayaan
Edukasi dan Sosialisasi Kesenian dan kebudayaan dapat digunakan sebagai alat untuk edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya pengawasan Pemilu.
Misalnya, melalui pertunjukan teater, film, dan seni visual yang menggambarkan pentingnya integritas dalam Pemilu.
Penggunaan media seni yang menarik dapat menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk mereka yang kurang terjangkau oleh kampanye formal.
Pemanfaatan group kesenian juga mempunyai nilai edukasi dan pemberdayaan komunitas. Melibatkan komunitas seni dan budaya dalam pengawasan Pemilu dapat memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Misalnya, komunitas musik dapat mengadakan konser bertema Pemilu yang mendorong partisipasi masyarakat. Tradisi budaya lokal, seperti wayang kulit, ketoprak atau tari-tarian tradisional, dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya kejujuran dan transparansi dalam Pemilu.
Di sinilah kampanye kreatif memanfaatkan seni dan budaya dapat menarik perhatian lebih banyak warga masyarakat, terutama generasi muda. Hal ini bisa berupa mural dengan pesan-pesan Pemilu, atau lomba karya seni yang bertema pengawasan Pemilu. Dengan cara ini, pesan tentang pentingnya pengawasan Pemilu dapat disampaikan dengan cara yang lebih engaging dan memorable.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Sesungguhnya, urgensi pengawasan Pemilu oleh Bawaslu dan partisipasi masyarakat dari perspektif etika, norma; dan politik adalah untuk memastikan proses Pemilu yang adil, jujur, dan transparan. Dengan anggaran yg disediakan negara, kita bisa berinisiatif agar masyarakat mempunyai tanggung jawab pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemilu secara kontinyu.
Memanfaatkan kesenian dan kebudayaan sebagai alat sosialisasi dan pemberdayaan komunitas pada kenyataanya; sangat berpengaruh dalam memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengawasan Pemilu, meningkatkan transparansi, dan membangun kepercayaan publik terhadap hasil Pemilu. Wallahu a’lam.*
Penulis : Muhammad Hafidh
Koordinator Divisi (Kordiv) SDM, Organisasi & Diklat Bawaslu Kabupaten Magelang
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar