Sejarah Hari Ini (1974), Pesawat Berisi 182 Calon Haji Indonesia Tabrak Gunung 7 Perawan

BNews—NASIONAL— Pada 4 Desember 1974 atau 46 tahun lalu, sebuah pesawat yang mengangkut 182 calon jemaah haji Indonesia beserta sembilan awaknya mengalami kecelakaan. Semua penumpang dan kru tidak ada yang selamat dan dinyatakan meninggal dunia.

Pesawat yang berangkat dari Surabaya itu mengalami kecelakaan sekitar 15 menit sebelum mendarat di lapangan Internasional Bandaranaike, Kolombo, Sri Lanka. Pesawat itu sejatinya transit untuk mengisi bahan bakar. Kecelakaan pesawat ini adalah musibah kecelakaan terbesar kedua dalam sejarah dunia selama tahun itu.

Pesawat yang mengalami kecelakaan ini adalah jenis DC-8 55f, produksi McDonald Douglash tahun 1966 milik maskapai Belanda Martin Air yang disewa. Pada masa itu, tidak ada penerbangan langsung dari Indonesia ke Makkah. Sehingga, Garuda Indonesia harus mencarter maskapai lain karena armada kurang.

Seorang petani di lokasi kecelakaan, Tilak de Zoysa, mengaku mendengar ledakan saat peristiwa terjadi. Ia kemudian bergegas keluar dari bungalow-nya yang berjarak sekitar 180 meter dan melihat pesawat itu hancur berkeping-keping.

”Puncak perbukitan yang ditabrak oleh pesawat adalah kawasan yang belum pernah dicapai orang sebelumnya,” kata dia.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Seorang keturunan Afghanistan dan India yang tinggal di Srilanka, Peerkhan Seiyadu, bercerita ia melihat psawat yang terbang terlalu rendah sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Dari arah timur, pesawat tersebut terlhat hendak menghindari tebing tinggi yang berselimut kabut.

”Terlambat, tebing tinggi itu tak bisa dihindari. Pesawat itu menabrak tebing, lalu memercikkan api. Hancur berkeping-keping,” ungkapnya. Ia menyebut tak ada satu pun korban ditemukan dalam keadaan utuh kecuali jenazah pramugari Belanda yang kondisi tubuhnya sudah sangat mengkhawatirkan.

Download aplikasi Borobudur News (Klik di sini)

Duta Besar Sri Lanka saat itu Djafar Hussein menyampaikan lokasi kecelakaan berada di puncak perbukitan yang belum pernah dicapai manusia sebelumnya. Kecelakaan tersebut disertai ledakan, sehingga sebagian besar bagian tubuh jenazah tidak berhasil dikumpulkan.

Para korban kecelakaan pesawat itu terdiri dari 111 warga Blitar, 16 warga Lamongan, 49 warga Sulawesi Selatan, dua warga Surabaya dan tiga warga Kalimantan Timur. Adapun, sembilan awak adalah dua dari mahasiswi tingkat IV Fakultas Syariah (Hukum) IAIN Surabaya dan mahasiswa IAIN Ujungpandang. Sedang tujuh awak lainnya adalah warga Belanda.

Tebing yang ditabrak pesawat tersebut dikenal dengan sebutan Tujuh Perawan atau Seven Virgins. Warga Srilanka menyebutnya dengan Anjimalai. Di daerah tersebut terdapat satu puncak yang dikenal warga dunia sebagai Adam’s Peak atau Sri Pada. Puncak tersebut diyakini oleh banyak pemeluk agama di Asia Selatan dan sebagian Timur Tengah sebagai sebuah tempat suci.

Sebagian Muslim dan Kristen mempercayai lokasi tersebut sebagai tempat Nabi Adam pertama kali menjejakkan kaki di bumi. Adapun, pemeluk Budha meyakini telapak kaki yang ada di Gunung itu adalah milik Sidharta Budha Gautama. Sementara, umat Hindu mempercayainya sebagai jejak Dewa Siwa.

Usai kecelakaan yang terjadi, beberapa minggu kemudian usai investigasi rampung pemerintah membangun sebuah monumen sekitar 400 meter dari tebing di mana kecelakaan terjadi. Monumen itu sekaligus menjadi perkuburan massal para calon jamaah mengingat kondisi jenazah tak memungkinkan untuk di bawa pulang ke Indonesia

Hanya ada sebagian jenazah potongan jenazah yang kemudian dipulangkan dan dikubur dalam perkuburan massal di halaman Masjid Ampel, Surabaya. Dubes Djafar Husein mengatakan, para anak cucu jemaah haji yang meninggal mungkin rutin menziarahi Ampel.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: Pesawat Garuda Terbakar di Jogja dan Tewaskan 21 Penumpang

Terdapat sejumlah faktor yang disebut sebagai kecelakaan pesawat. Sebuah surat kabar yang terbit di Kolombo menyebut jatuhnya korban diakibatkan petugas menara salah mendengar laporan pilot pesawat.

Dalam kontaknya terakhir, pilot menyebut jarak pesawat dengan lapangan terbang adalah fourty (40) miles. Sedang petugas menara salah mendengar sebagai fourteen (14) miles. Karena salah mendengar, petugas menara menginstruksikan pilot untuk pesawat mendarat.

Pilot kemudian mengurangi ketinggiannya dan terkejut karena rupanya instruksi itu salah. Ia berusaha menaikkan kembali ketinggiannya. Namun tak berhasil yang kemudian mengakibatkan pesawat menabrak.

Meski demikian, tak diketahui dengan pasti kebenaran mengenai informasi tersebut. Laporan-laporan resmi menyebut pesawat terbang terlalu rendah dari tinggi minimum yang seharusnya 10.200 kaki. Sedangkan, puncak kelima dari Seven Virgin yang ditabrak pesawat memiliki ketinggian sekitar 4.600 kaki. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: